Tuesday, April 27, 2010

IDEOLOGI



Sebagai seorang anggota LEKRA, Magusig O Bungai (JJ Kusni - Kusni Sulang) tentunya paham dengan doktrin Realisme Sosialis. Doktrin Realisme Sosialis, biasanya diklaim berasal dari Marx-Engels. Tetapi menurut Terry Eagleton pencetus ide tersebut (DRS) adalah para kritikus demokratis - revolusioner Rusia Abad ke-XIX, seperti Belinsky, Chernysevsky, dan Dobrolyubov. (Eeagleton, 2002:52).
Di lain pihak, Raman Selden bilang, "Doktrin-doktrin yang diuraikan oleh Persatuan Penulis Soviet (1932-1934) adalah sebuah kodifikasi pernyataan-pernyataan Lenin sebelum revolusi sebagai ditafsirkan dalam tahun 1920-an. Teori itu membicarakan masalah-masalah utama tertentu tentang evolusi kesusasteraan, cerminan hubungan-hubungan kelasnya, dan fungsinya dalam masyarakat." (Selden, 1991:24).
Jika kedua sumber itu (Eagleton dan Sekden) benar, maka, dengan kata lain, doktrin realisme sosialis adalah tergolong aliran Marxian (Marxis). Pada Kongres Pertama Pengarang Soviet (1934), Realisme Sosialis diterima sebagai prinsip penuntun dalam kreasi sastra. Dalam Statuta Perhimpunan Pengarang, dijelaskan sebagai berikut:
Realisme Sosialis, metode dasar kesusasteraan dan kritik sastra Soviet , menuntut pengarang untuk memberikan penggambaran kenyataan yang penuh kebenaran dan konkret secara histories dalam perkembangan revolusinya. Sementara itu, kebenaran dan kekonkretan histories suatu pelukisan kenyataan artistic harus dikombinasikan dengan tuga pendidikan dan pemulihan ideology pekerja dengan semangat sosialisme . (Fokema 1998: 23)
Pramudya Ananta Toer ketika memaparkan masalah "Realisme Sosialis Sebagai Bagian Dari Perjuangan Politik," menulis begini:
Istilah ini timbul pertama-tama dan dengan sendirinya di bumi yang untuk pertama kli memenagkan sosialisme, di bumi yang telah menegakkan sosialisme, yakni Uni Soviet. Tokoh utamanya yang biasanya mendapatkan kehormatan sebagai pelopornya adalah pujangga besar Sovyet, Maxim Gorky, terutama dengan karyatamanya, Ibunda." (Ananta Toer, 1980:4)
Berkaitan dengan itulah kemudian Pramudya mengutip rumusan pemimpin revolusi Rusia, V.I. Lenin, sebagai berikut:
Kegiatan sastra harus jadi bagian daripada kepentingan umum kaum proletariat, menjadi 'roda dan sekerup' kesatuan besar mekanisme sosial-demokratik, yang digerakkan oleh seluruh barisan depan kelas pekerja yang mempunyai kesadaran politik. Kegiatan sastra harus menjadi unsur daripada garapan partai gabungan sosial-demokratik yang terorganisasi dan berencana." (Ananta Toer, 1980:5)
Marxisme, juga Marxisme-Leninisme, adalah sebuah ideologi, yang berhadap-hadapan dengan Kapitalisme/Kolonialisme/Imperalisme. Setelah lebih dari tujuh dasawarsa Marxisme-Leninisme menjadi ideo;ogi resmi banyak negara (Uni Sovet, dan negara-negara satelitnya di Eropa Timur, Jerman Timur, RRC, Cuba, Vietnam, Laos, dll), peta ideologi dunia berubah secara tajam.
Emperium Uni Soviet bubar, pecah belah menyisakan negara-negara bagian bekas anggotanya. Kekuasaan yang berorientasi sosialis/komunis di Eropa Yimur, berguguran. Partai Komunis Cina (PKC) masih tetap resmi berhaluan komunis/sosialis, tetapi sudah menerapkan ekonomi pasar (kapitalis).
Perubahan luas dan drastis itulah yang kemudian mendorong birokrat AS berdarah Jepang, Francis Fukuyama, menulis bukunya yang mashur, The End of History and the Last Man (1989). Bahkan jauh-jauh hari sebelumnya, sosiolog dari negeri kapitalis, Daniel Bell, telah menulis buku The End of Ideology, yang antara lain mnyatakan bahwa, "penyelesaian menyeluruh terhadap problem kemanusiaan yang dilakukan oleh ideologi-ideologi besar tidaklah valid lagi."
Dengan berani, Daniel Bell menyatakan dalam tulisannya itu, "Dekade terakhir ini, kita telah menyaksikan habisnya ideologi-ideologi abad ke-19, khususnya Matxisme,sebagai sebuah sistem intelektual yang telah mengklaim 'kebenaran' atas pandangannya tentang dunia." (Nuswantoro, 2001:VIII).
Namun demikian, Samuel P. Huntington dari Harvard University dan Kepala Harvard Academy for International and Area Studies, memiliki pendapat yang sangat patut dipertimbangkan:
"The collapse of this ideology in the Soviet Union and its substantial adaptation in China and Vietnam does not, however, necessarily mean that these societies will import the other Western ideology of liberal democracy. Westerners who assume that it does likely to be surprised by the creativity, resilence, and individuality of n0n-Western cultures." (Huntington, 1996:53)
Tahun ini, (Jul 2005), JJ Kusni menrbitkan kembali kumpulan sanjaknya, yang berjudul Sansana Anak Naga Dan Tahun-tahun Pembunuhan (Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2005). Berisi 33 judul karya-karya puisinya. W.E. Wertheim dalam kalimat pentup sambutannya mengatakanbuku Kusni itu sebagai "kumpulan sanjak yang bersemangat".
Memang, semnagat JJ Kusni tidak tetap menyala, tidak berubah, mekipun peta dunia ideologi telah berubah, dan Dasniel Bell bilang, ideologi sudah mati serta Fukuyama bilang bahwa sejarah sudah verakhir dengan menangnya kapitalisme dan kalahnya komunisme/sosialisme.
Marilah kita baca di sini, secara acak sanjak-sanjak JJ Kusni, dari awal, tengah dan bagian akhirnya:
Puisi pertama:
Yang Tak Mau Jadi Budak, Ayo Bangkit memberontak! ………………………………………………..
Ada pun kami anak-anak negeri ini tak punya banyak pilihan
Katakanlah apalagi yang bisa ditempuh membangun harapan
Padahal cinta tak berakhir di kata-kata, apa lagi cona?!
Maka yang tak mau jadi budak, ayo, bangkit memberontak
Puisi Tengah:
Apakah Benar Kau Aanak Budak Sebenggol?
----------------------------------------------------------------
Pembangunan memang sudah melahirkan keajaiban- keajaiban
Di mana jurang-jurang kian lebar menganga
Suku-suku jadi asing di kampung kelahiran
Bersih kingkungan, larangan kerja, masakre dianggap budaya
-----------------------------------------------------------------
Puisi akhir:
Zalaman Laca
-----------------------------------------------------------------
Republik
Bukankah juga milik dayak?
Dayak juga
Bukankah Indonesia?
Entah kalau Indonesia berdusta
Entah kalau republik itu perangkap
Hanya dusta dan perangkap

Tentang pemberontakan itu? Albert Camus bilang, “Pemberontakan itu kreatif.” Dan seandainya kita mebanding antara isi (ideologi) dengan bentuk (estetika) dalam karya-karya Kusni?
Kalangan Demokratik Revolusioner, seperti Chernyshevsky dkk, berpendirian serempak dan kompak. Mereka melihat sastra sebagai kritik social dan analisis, sedangkan seniman sebagai pembawa pencerahan. Sastra hendaknya mengabaikan rumitnya tknik-teknik estetik dan menjadi alat perkembangan social. (Eagleton, 2002:52) Marilah kita akhiri makalah ini dengan mengutip ucapan sastrawan genius Nietzsche, yang dikutip novelis eksistesialis Albert Camus: "Tidak seorang pun seniman dapat menerima kenyataan." Dan komentar Alber Camus: "Ini benar, tetapi juga tidak seorang pun seniman dapat hidup di luar kenyataan."
Literatur
- Pramudya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, Jakarta, 1963
- Terry Eagleton, Marxisme dan Kritik Sastra, Penerbit Sumbu, Yogyakarta, 2002
- Albert Camus, dkk, Seni, Politik, Pemberontakan, Bentang Budaya, Yogyakarta, 1998
- D.W. Fokema, et al., Teori Sastra Abad Kedua Puluh, Gramedia, 1998 Raman
- Selden, Panduan Teori Sastra Masa Kini, Gajah Mada University Press, 1991
- Nuswantoro, Daniel Bell, Matinya Ideologi Indonesia Tera, Magelang, 2001
Samuel Huntington, The Clash of Civilizations and The Remaking of The World Order, Simon & Schuster, New York, 1996 JJ Kusni, Sasana Anak Naga dan Tahun-Tahun Pembunuhan, Yogyakarta, 2005

No comments:

Post a Comment

Post a Comment