Monday, April 26, 2010

Pandangan sebagian masyarakat (Jawa) terhadap keris

Keris atau dhuwung dan disebut juga “curiga” termasuk yang dinamakan tosan aji (tosan-besi, aji- dihormati karena dianggap bertuah). Keris adalah jenis senjatayang dianggap bertuah atau keramat dan dalam kehidupan masyarakat dipandang sebagai pusaka. Oleh karena itu perawatannya menjadi sangat khusus. Pandangan itu mengakibatkan keris mempunyai kekuatan tersendiri sebagai artefak budaya dan layak untuk dilestarikan secara preservasi maupun konservasi. Pusat konservasi Keris Nusantara STSI Surakarta berkewajiban untuk melestarikan keberadaan keris secara revitalisasi maupun reinterpretasi
Keris atau dhuwung dan disebut juga curiga, yang juga dinamakan tosan aji (tosan--besi, aji--dihormati karena dianggap bertuah). Keris atau tosan aji adalah jenis senjata yang dianggap bertuah atau keramat. Keris disamping diyakini sebagai benda bertuah atau keramat, juga sering dikaitkan dengan adanya kekuatan “gaib” Oleh karena itu dalam kehidupan masyarakat dipandang sebagai pusaka.
Pandangan masyarakat
Pandangan sebagian masyarakat (Jawa) terhadap keris akan selalu berkaitkan dengan soal gaib dan berhubungan erat dengan keyakinan (kepercayaan) mereka. Namun kemampuan untuk menafsirkan “kegaiban” pada setiap keris sangat beragam. Berdasarkan cerita mithos; keris berasal dari pemberian Dewa tanpa diketahui pembuatnya; misalnya keris Pasupati dalam pewayangan diberikan oleh dewa kepada Harjuna karena membunuh raksasa Newatakawaca yang menyerang khayangan (lihat kitab Arjunavivaha)
Ada keris yang terjadi dari taring Batara Kala dan bernama Keris Kaladete, keris yang kemudian dimiliki oleh Adipati Karna


Cerita semacam itu banyak diambil dari situs Mahabarata. Keris dalam cerita Arjunavivaha tersebut digambarkan sebagai hadiah Dewa kerena mampu mengalahkan raksasa Newatakawaca dan membawa ketenangan khayangan Demikian juga dengan keris Kaladete diberikan oleh Batara Kala, karena ingin membalas dendam terhadap Gatutkaca.
Pada cerita sejarah, ada keris yang berhubungan dengan berdirinya suatu kerajaan, misalnya “Keris Empu Gandring” yang dipesan oleh Ken Arok akhirnya untuk membunuh Akuwu Tunggul Ametung dar Tumapel; setelah berhasil Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari. Cerita ini terdapat dalam Kitab Pararaton.
Diceritakan juga pada jaman Mataram, Ki Ageng Wanabaya (Ki Ageng Mangir) mendapat keris kyai baru. Kyai Baru adalah penjelmaan seekor naga yang sedang bertapa dan membelit Gunung Merapi, sebagai syarat untuk mendapatkan separo kerajaan Pajang. Cerita ini berhubungan dengan terjadinya Rawapening Ambarawa. Dan cerita ini sangat populer dalam masyarakat dan bersifat cerita rakyat
Fenomena keris di atas dalam cerita mithos, cerita sejarah dan cerita rakyat dan bahkan mungkin cerita-cerita yang lain seolah mempunyai kekuatan diluar kemampuan manusia (kekuatan gaib). Bahkan ada cerita tentang keris yang mampu menghilang dan datang dan kembali ke asalnya (Dewa), dan atau pindah ke lain pemilik sesuai kehendaknya. Ini kemudian diyakini oleh sebagian masyarakat karena fenomena gaib atau mempunyai kekuatan diluar kekuatan manusia. (Apakah cerita itu benar, ya saya kembalikan kepada rekan-rekan komuniotas keris) 2

Yang menjadi pokok persoalan bukan isi cerita itu, kebenaran cerita itu, atau betulkah keris punya kekuatan gaib. Yang sangat penting adalah Fenomena cerita di atas mempunyai kekuatan yang dasyat dan mampu membentuk emage masyarakat tentang keberadaan keris. Cerita-cerita tersebut mampu membentuk opini masyarakat untuk dan mampu mempertahankan artefak budaya (keris), sekaligus mengantarkan keris sebagai warisan budaya. Keris sebagai ekspresi budaya nusantara mampu dilestarikan keberadaannya, lewat fenomena cerita-cerita dan kemudian mampu memberikan wacana kepada masyarakat sebagai keyakinan. Keyakinan terhadap keris sebagai benda pusaka yang dikeramatkan, maka seolah ada kuajiban masyarakat untuk merawatanya. Itu merupakan bukti daya tahan kebudayaan dalam masyarakat.

Fenomena keyakinan masyarakat itu lahir dan berkembang di semua individu masyarakat Jawa . Keyakinan-keyakinan itu menghatarkan keris sebagai artefak yang mampu bertahan sebagai pusaka budaya. Fenomena ini yang disebut dengan metode rekayasa cultural yang mereka trapkan melalui munculnya cerita mitos, cerita sejarah dan cerita rakyat. Keris kemudian bukan lagi sekedar sebagai senjata tetapi merupakan fenomena dalam rangka membangun pilar-pilar kebudayaan Keris yang konon sebagai senjata tikam, kemudian keris digunakan para prajurit dan pengageng keraton sebagai senjata sekaligus sebagai lambang status dalam tata busana di dalam keraton. Bahkan keris juga dipakai sebagai pelengkap upacara dilingkungan Istana dan keris secara syah menjadi lambang pengagungan dan status kebangsawanan.

Perubahan pranata sosial masyarakat, mengakibatkan perubahan fungsi keris. Keris sebagai senjata tikam dan sekaligus sebagai lambang status kebangsawanan dilingkungan keraton mulai bergeser. Namun perlu dicatat bahwa pergeseran keris tersebut di atas tetap mengacu pada fenomena keraton sebagai sumber budaya pengagungan. Sehingga berbicara “keris” tidak akan lepas dari keraton sebagai pusat kebudayaan. Itulah mengapa pemakaian keris pada uapacara-upacara hajatan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap mengacu ke dalam Keraton sebagai sumber budaya pengagungan.

Pergeseran terhadap ikatan kultural
Perkembangan teknologi dan informasi dalam era globalisasi dewasa ini. secara tidak langsung akan mempengarui gerak dinamika kehidupan seni budaya. Kemampanan seni budaya terutama kehidupan budaya etnis, akan mengalami perubahan secara kultural. Seni budaya tradisi yang tidak lepas dari ikatan nilai sosio-kultural (hubungan integral antara seni dan masyarakat), mulai terkoyak oleh perkembangan jaman lewat arus teknologi informasi. Kekentalan ikatan nilai kebersamaan yang membuahkan satu bentuk budaya yang memiliki dan diyakini, akhirnya sedikit demi sedikit bergeser. Ikatan nilai sosio-kultural beralih ke dalam ikatan individu-kultural. Orientasi terhadap kepentingan sosial masyarakat beralih atas kepentingan individu yang fungsional. Keris (tosan Aji) yang dulu merupakan karya tradisi yang punya ikatan sosio-kultural kini bergeser oleh kepentingan individu cultural.

Keris sebagai artefak budaya, dalam perkembangan selanjutnya akan dihadapkan oleh dua kekuatan; kekuatan Konservasi dan kekuatan progresi, kekuatan dimana satu pihak untuk melestarikan satu pihak ingin maju. Pandangan Konservasi menghendaki segala kekuatan budaya selalu berorientasi kepada masa lalu, sehingga ada benang emas yang menghubungkan budaya kini dan budaya masa lalu tak terpisahkan oleh arus globalisasi. Pandangan progresif menghendaki adanya sebuah perubahan yang mengarah pada modernisasi budaya.
Perkembangan seni budaya dari dunia ketiga termasuk Indonesia, dewasa ini dihadapkan dalam dua pilihan tersebut di atas. Kebudayaan nasional yang bertitik tolak dari kebhinekaan dari puncak budaya daerah, mencoba memberi alternatif kemajuan yang secara progresif mengarah perkembangan dunia. Bahkan dapat dikatakan bahwa aset budaya nasional mengarah pada kekuatan konservasi- progresif. Kekuatan tersebut akan membawa konsekuensi logis adanya dua alternatif pelestarian; pelestarian preservatif dan konservatif 3. Dampak ini juga akan dihadapi oleh komunitas keris. Keris secara preservasi di simpan dan dirawat sebagai salah satu budaya kelangenan sebagai pusaka budaya. Pelestarian konservasi merupakan pelestarian dengan mencoba mengembangkan nilai sesuai dengan pranata sosial masyarakat.
Pengaruh teknologi dan informasi dalam era globalisasi ini akan mempengarui pertumbuhan dan perkembangan budaya daerah, otomatis akan mempengarui kebudayaan nasional yang mengacu pada puncak budaya daerah. Kebudayaan yang merupakan kekayaan budaya nasional mulai terancan eksitensi dan essensinya. Keris sebagai kekuatan transenden dan sebagai budaya keyakinan lokal pada masyarakat mulai tergeser pada kekuatan ontologis yang mengarah pada kekuatan untuk menguasai dan mengolah budaya lokal sebagai budaya alternatif (seni komuditas), dan keris dihadapkan pada pasar.
Keris yang konon sebagai lambang status kebangsawanan, kini dihadapkan oleh budaya alternatif (budaya massa) sebagai salah satu alternatif pelesatarian. Keris yang konon sebagai benda bertuah dan dikeramatkan, dirumat dan diyakini sebagai pusaka. Kini keris merupakan benda alternatif seolah barang dagangan siap jual dan menunggu pembelinya.

Peran Perguruan Tinggi Seni
Perguruan Tinggi khusunya perguruan tinggi seni, sebagai pusat pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, ikut bertanggung jawab terhadap pelestarian sekaligus peningkatan seni budaya yang memfokuskan pada peningkatan kualitas sumber manusia dalam pembangunan. Maka diperlukan berbagai usaha, salah satunya adalah memberikan andil pemikiran dan penyedian tenaga ahli dan atau terampil dibidangnya, sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi
Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (Sebentar lagi berubah status menjadi ISI Surakarta), sesuai dengan visi-misi perguruan tinggi yaitu pelestarian budaya tradisi nusantara, merasa punya kuajiban untuk mengangkat “keris” sebagai studi unggulan. Penjabaran visi-misi STSI Surakarta ini tampak pada:
1. Mata kuliah Keris sebagai MK. Minor (Pilihan wajib) pada program studi Kriya Seni dan MK. Pilihan pada progam studi lain di jurusan Seni Rupa STSI Surakarta.
2. Kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa yang terselenggara atas kerja sama jurusan Seni Rupa dan organisasi Kemahasiswaan STSI Surakarta.
3. Didirikannya Pusat Konservasi Keris Nusantara sebagai salah satu wadah Pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta laboratorium pembuatan keris sebagai salah satu usaha dalam wujud revitalisasi melalui konservasi (pelestarian dan pengembangan) keris.


Rujukan:

Arumbinang, Haryono., IR (1985). Pakem Padhuwungan, Yogya: Lembaga javanologi “Panunggalan”
Groneman, J. DR. (1910). Wet er van de Pamor Smeedkunts worden zal (Bagaimana keadaan seni pamor di kemudian hari), Semarang: Harian De Lokomotif, 19 Juli
Harsrinuksmo, Bambang (tth), Katurangganing Dhuwung-dhuwung, Surakarta: Perpustakaan Mangkunegaran H 124 & H 125.
Hamzuri, Drs. (1982/1983), Petunjuk singkat tentang keris. Jakarta: Proyek Pengembangan Musium Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Raharjo, Sunaryo. (1977). Andalan Bab Pusoko Tosan Aji. Surakarta: Perpustakaan Mangkunegaran H.128
Rosenberg, Bernard and Manning White, Bavid (ed).tth. Ass Culture, The Problem Art in Amerika. A Theory of Mass Culture by Dwight Macdonald. Ilinois: The Free Press.
Sayid, R.M. (tth), Bab Tosan Aji Prabote Jengkap, Surakarta: Perpustakaan Mangkunegaran: H.126
Thomas Drysdale (1978). Katalog Pameran empat Seniman Pop, School of Fine Art. New York; University

Catatan Pembicara:
Dr. Dharsono, MSn (Sony Kartika),
Doktor Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana ITB Bandung
Lahir di Klaten, 14 Juli 1951, Lektor kepala (dosen) Seni Rupa STSI Surakarta,
penulis, pengamat seni dan budaya
Alamat:
Jl. Pembangunan I/13 Perum UNS Jaten Karanganyar 57731. Telp. (0271) 495964
Jl. A. Yani 780 Bandung Hp. O81321246110. Email: sonykartika2005@Plasa.com


No comments:

Post a Comment