Saturday, April 24, 2010

TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH

TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH
MAKALAH


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Bahasa Indonesia”






Oleh:
syifaul qulub
Dosen Pembimbing
H. M. ALI MURTADLOH



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM QOMARUDDIN
GRESIK
2009



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i
KATA PENGANTAR ………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………… iii
ABSTRAK …………………………………………………………………. iv
Bab I PENDAHULUAN ……………………………………………………. 1
A. Latar Belakang Masalah ………………………………………….. 1
B. Rumusan Masalah ………………………………………………… 1
C. Tujuan Pembahasan ………………………………………………. 1
Bab II PEMBAHASAN ………………………………………………………. 2
A. Karya Tulis Ilmiyah : Apa dan Bagaimana ? ……………………….. 2
B. Teknik Penulisan Karya Ilmiyah …………………………………… 2
Bab III PENUTUP ……………………………………………………………. 17
A. Kesimpulan ……………………………………………………….. 17
B. Saran ……………………………………………………………… 17
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 18


ABTRAK

YENI. 2008 teknik penulisan karya ilmiyah dan langkah-langkah dalam penulisan, pembuatan makalah dalam tugas Bahasa Indonesia STAI Qomaruddin Bungah Gresik jurusan PGSD.
Pembimbing : H. Ali Murtadlo
kata Kunci : Teknik Penulisan karya ilmiyah

Dalam penulisan karya ilmiyah di perlukan teknik-teknik sendiri, agar penulisan itu bias di pahami dan diterima dengan baik dan benar, bahkan menaril minat si pembaca untuk bergabung dalam penulisan karya ilmiyah serta langkah-langkah yang sangat mudah. Karena pada dasarnya, di zaman yang sekarang ini pembuatan karya ilmiyah di anggap susah dan rumit. Padahal dalam penulisan karya ilmiyah ini penulis akan mengetahui maslah-masalah yang harus di pecahkan guna mendapat pengetahuan dan ilmu yang baru, baik yang berkenan dengan dunia kealaman, dunia sosial ataupun dunia tingkah laku.
Sasaran penelitian karya ilmiyah adalah mengumpulkan dan mencari serta menganalisis fakta-fakta mengenai suatu masalah dalam rangka menemukan dan mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiyah.
Teknik penulisan yang di gunakan sebagaimana yang ada dalam bahasa Indonesia, baik dalam bahasa dan penggunaan tanda-tanda baca yang sangat mendukung penulisan katya ilmiyah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Teknik penulisan karya ilmiyah merupakan cara di mana dalam penulisanku mendapatkan hasil dengan baik dan benar, bahkan dalam artian sempurna. Baik dari segi penulisan, huruf-huruf yang di tulis, kata-kata yang dipakai sesuai dalam kaidah Bahasa Indonesia dan tanda-tanda baca dalam penulisannya.
Karya tulis ilmiyah merupakan progam pembalajaran yang memberi peluang kepada siswa untuk meneruskan kegiatannya dalam hal tulis menulis serta menelitis ebuah masalah, mengerti dalam teknik penulisannya.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan di bahas dalam teknik penulisan karya tulis ilmiyah ini adalah :
1. Apa dan bagaimana karya ilmiyah itu ?
2. Bagaimana teknik penulisan karya tulis ilmiyah dengan baik dan sempurna
C. Tujuan Pembahasan
1. Guna menjadi acuan bagi semua orang yang akan membuat karya tulis ilmiyah terutama orang-orang yang gemar membuat penelitian-penelitian yang di tuang dalam pembentukan karya tulis ilmiyah.
2. Mendorong minat penggemar karya tulis ilmiyah untuk menulis lebih baik lagi.
3. Memanfaatkan karya tulis ilmiyah untuk lebih memantapkan prestasi-prestasi dalam tulis menulis.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Karya Tulis Ilmiyah : Apa dan Bagaimana ?
Sering muncul pertanyaan dari siswa, apakah semua karangan dapat di golongkan ke dalam karya tulis ilmiyah? Pertanyaan ini muncul karena kekurangfahaman siswa terhadap ciri-ciri karya tulis ilmiyah. Siswa belum dapat menemukan unsur pembeda antara karya tulis ilmiyah dengan karangan pada umumnya. Siswa belum memahami bahwa karya tulis ilmiyah harus di susun dengan memperhatikan beberapa persyaratan, misalnya : data yang digunakan harus obyektif, teknik penggalian datanya harus di sesuaikan dengan data yang di perlukan, instrument pengumpulan datanya harus valid dan variable, teknik pengambilan sampel adan populasi harus tepat, penulisannya harus berpedoman pada ketentuan yang berlaku, serta menggunakan bahasa Indonesia ragam ilmiyah.
Lalu apa yang di maksud karya tulis ilmiyah ?
Mengenai pengertian katya tulis ilmiyah itu sendiri bermacam-macam. Salah satu pengertian karya tulis ilmiyah adalah tulisan tentang ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan di tulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Fakta yang di sajikan dapat berasal dari angket, wawancara, ataupun dari pengalaman. Fakta tersebut selanjutnya di tulis dengan kaidah hyang berlaku dalam karya tulis ilmiyah, baik yang berupa makalah, laporan ilmiyah, maupun altikel ilmiyah.
Karya tulis ilmiyah dapat pula di artikan sebagai salah satu bentuk tulisan yang memuat hasil penelitian dengan menggunakan teknik penulisan yang telah lazim.

B. Teknik Penulisan Karya Ilmiyah
Pengetikan karya ilmiah dilakukan dengan memperhatikan cara berikut ini:

1. Karya ilmiah,
diketik dengan jarak 2 spasi diatas kertas ukuran kwarto, minimal 70 gram untuk skripsi dan 60 gram untuk makalah dan artikel.
2. Batas pengetikan
• Untuk halaman bab (bab baru), tepi kiri kertas 4 cm dan tepi atas 4 m.
• Untuk halaman selain bab, tepi kiri kertas 4 cm dan tepi atas 3 cm
• Untuk setiap halaman, tepi kana dan tepi bawah masina-masing
3. Jenis huruf
 Karya ilmiah hendaknya diketik dengan mesin tulis atau computer ukuran(10 karakter dalam 1 inci, misalnya huruf pica).
 Pengetikan yang menggunakan cara rata kanan hendaknya tidak mengorbankan aturan spasi antarkata dalam teks.
4. Awal paragraf,
Diketik pada ketukan keenam dari batas tepi kiri. Sesudah tada baca titik, koma, titik dua, titik koma hendaknya ketukan kosong.
5. Penomoran setiap halaman:
1. Bagian pendahuluan (halaman judul, tanda persetujuan, dan seterusnya)
2. Bagian teks atau bagian inti (BAB I dan seterusnya) diberi angka latin, yakni 1, 2, 3 dan seterusnya dengan cara yaitu:
a) Bab baru pada halaman awal, nomor halaman diketik di tengah bawah.
b) Halaman berikutnya pada sudut kanan atas.
c) Nomor halaman untuk lampiran ditulis dengan menggunakan angka arab, di sudut kanan atas, melanjutkan nomor halamanya sebelumnya.

6. Penggunaan Tanda Baca
Penulisan tanda baca hendaknya mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
a. Titik(.), koma(,), titik dua(:), tanda seru(!), tanda Tanya(?), dan tanda persen(%) ditulis rapat dengan huruf yang mendahuluinya. Perhatikan contoh berikut ini:
salah Benar
Sampel di dipilh secara acak data dianalisis dengan teknik korelasi , anova ,dan regresi ganda . Sampel di dipilh secara acak data dianalisis dengan teknik korelasi, anova, dan regresi ganda.
….dengan teori ; kemudian
….sebagai berikut : ….dengan teori; kemudian
….sebagai berikut:
Hal itu tidak benar ! Hal itu tidak benar!
Benarkah itu ? Benarkah itu?
Jumlah responden yang tidak lulus 25 % Jumlah responden yang tidak lulus 25%

b. Tanda petik(“….”) dan tanda kurung () diketik rapat dengan huruf dari kata atau frasa yang diapit.
Perhatikan contoh berikut ini:
salah Benar
The “ placebo effect ” which had been verified in previous studies, disappeared when behaviors, were studied in this manner. The “placebo effect” which had been verified in previous studies, disappeared when behaviors, were studied in this manner.
Tes baku ( standardizet ) Tes baku (standardizet)

c. Tanda hubung (-), tanda pisah( __ ), dan garis miring(/) diketik rapat dengan huruf yang mendahulai dan mengikutinya.
Perhatikan contoh berikut ini:
salah Benar
Saran – saran Saran–saran
Tahun 2005 – 2010 Tahun 2005–-2010
Tes baku ( standardizet ) Tes baku (standardizet)
Angket / keusioner harus diisi langsung. Angket/keusioner harus diisi langsung.

d. Tanda sama dengan (=),lebih besar (>), lebih kecil(<), tambah(+), kurang(-), kali (x) dan bagi (:) diketik dengan spasi satu ketukan sebelum dan sesedahnya.
Perhatikan contoh berikut ini:
salah Benar
P=0,05 P = 0,05
P<0,01>
P>0,01 P > 0,01
a+b=c A + b = c

e. Tanda titik dua (:) digunakan untuk memisahkan tahun penertiban dengan nomor halaman pada rujukan diketik rapat dengan angka yang mendahului dan mengikutinya.
Perhatikan contoh berikut ini:
salah Benar
Muhaimin (2005 : 26) menyatakan…. Muhaimin (2005:26) menyatakan…

f. Pemenggalan kata di akhir baris (-) disesuaikan dengan suku katanya.
Perhatikan contoh berikut ini:
salah Benar
Objek kajian ini diorienta sikan pada…. Objek kajian ini diorienta-sikan pada….
Kebanyakan pendidik me-mperlakukan siswa…. Kebanyakan pendidik mem-perlakukan siswa….
7. Teknik Penyajian Tabel dan Gambar
a. Penyajian Tabel
Penggunaan tabel merupakan salah satu cara yang sistematis untuk menyajikan data statistik dalam kolom-kolom dan lajur, sesuai dengan klasifikasi masalah. Dengan menggunakan tabel, pembaca dapat memahami dan menafsirkan data secara cepat an menemukan hubungan-hubungannya.
Tabel yang baik hendaknya sederhana dan dipusatkan pada beberapa ide. Memasukkan terlalu banyak data dalam tabel dapat mengurangi nilai penyajian tabel. Lebih baik menggunakan banyak tabel dari pada menggunakan sedikit tabel yang isinya terlalu padat. Tebel yang baik adalah tabel yang didalamnya terkandung ide dan hubungan-hubungannya dalam tulisan secara efektif.

Dalam karya ilmiah, tabel hendaknya disjikan dengan cara-cara sebagai berikut:
1) Jika tabel cukup besar (lebih dari setengah halaman), maka tabel harus ditempatkan pada halaman tersendiri; dan jika tabel cukup pendek (kurang dari setengah halaman) sebaiknya diintegrasikan dengan teks.
2) Tabel diberi identitas berupa nomor dan nama tabel yang ditempakan di atas tabel. Hal ini dimaksud untuk memudahkan perujukan. Jika tabel lebih dari satu halaman, maka pada bagian kepala tabel (termasuk teksnya) harus diulang pada halaman selanjutnya. Akhir tabel pada halaman pertama tidak perlu diberi garis horisontal. Pada halaman berikutnya, tulisklan lajutan tabel....pada tepi kiri atas, tiga spasi dari garis horisontal teratas tabel.
3) Kata tabel ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf pertama kata tabel, ditempatkan dipinggir, diikuti nomor dan judul tabel.
4) Judul tabel ditulis dengan huruf besar pada huruf pertama setiap kata kecuali kata hubung. Jika judul tabel lebih dari satu baris, baris kedua dan seterusnya ditulis sejajar dengan huruf awal judul dengan jarak satu spasi. Judul tabel tanpa diakhiri dengan titik dan diberi jarak 3 spasi antara teks sebelum tabel dan teks sesudah tabel.
5) Nomor tabel ditulis dengan angka arab sebagai identitas tabel yang menunjukkan bab tempat tabel itu dimuat dan nomor urutnya dalam bab yang bersangkutan. Dengan demikian untuk setiap bab nomor urut tabel dimukai dari nomor 1.
6) Kolom pengepalaan (heading), dan deskripsi tentang ukuran atau unit data harus dicantumkan. Istilah-istilah seperti: %, No., dan f. Data yang terdapat dalam tabel ditulis dengan spasi tunggal. Garis digunakan jika dipandang lebih mempermudah untuk membaca tabel. Garis horisontal perlu dibuat, tetapi garis vertikal di bagian kiri, tengah, dan kanan tabel tidak diperlukan
7) Tabel yang dikutip dari sumber lain wajib diberi keterangan mengenai nama akhir penulis, tahun publikasi, dan nomor halaman tabel asli di bawah tabel dengan jarak tiga spasi dari garis horisontal terbawah, mulai dari tepi kiri.
8) Jika diperlukan catatan untuk menjelaskan butir-butir tertentu yang terdapat dalam tabel, gunakan simbol tertentu dan tulis dalam bentuk superskri. Catatan kaki untuk tabel ditempatkan di bawah tabel, dua spasi di bawah sumber, bukan pada bagian bawah halaman.
b. Penyajian Gambar
Istilah gambar mengacu pada foto, grafik, chart, peta sket, diagram, dan gambar lainnya gambar dapat menyajikan data dalam bentuk-bentuk visual yang dapat dengan mudah dipahami. Gambar tidak harus dimaksud untuk membangun deskripsi, tetapi dimaksudkan untuk menekankan hubungan tertentu yang signifikan.
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam penyajian gambar adalah sebagai berikut:
1) Judul gambar ditempatkan di bawah gambar, bukan diatasnya.Cara penulisan judul gambar sama dengan penulisan judul tabel.
2) Gambar harus sederhana untuk dapat menyampaikan ide yang jelas dan dapat dipahami tanpa harus disertai penjelasan tekstual.
3) Gambar harus digunakan dengan hemat. Terlalu banyak gambar dapat mengurangi nilai penyajian data.
4) Gambar yang lebih dari setengah halaman harus ditempatkan pada halaman tersendiri.
5) Penyebutan adanya gambar harus mendahului gambar
6) Gambar diacu dengan menggunakan angka, bukan dengan menggunakan

8. Teknik Pengutipan
a) Identitas Buku dan Penulis
Untuk menuliskan identitas sebuah buku, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Nama penulis harus ditulis seperti susunan nama aslinya [dengan tidak mendahulukan nama akhir (last name)] kemudian diikuti koma, judul buku yang ditulis miring, kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbit, kurung tutup, koma, nomor halaman dan titik.
Contoh:
Mitsuio Nakamura, The Cresent Arises Over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town (Yogyakarta: Gajah Mada University Prees, 1983), 45.
Oemar Seno Adji, Peradilan bebas negara hukum (Jakarta: eriangga, 1985),60.


b) Pengutipan Artikel
Kutipan yang dimbil dari artikel sebuah jumal memiliki ketentuan teknik tertentu. Ketentuan yang dimaksud adalah menyebutkan nama penulis persis seperti susunan nama aslinya, koma, tanda petik buka judul artikel(ditulis biasa, tidak miring atau bergaris bawah), tanda petik tutup, koma, nama jumal ditulis miring, koma, nomor jumal kurung buka, bulan (kalau ada), koma, dan tahunm penertiban, kurung tutp, koma,nomor halaman, dan titik. Perlu disebutkan bahwa junal ditulis dengan angka arab dan bukan angka romawi.
Contoh:
George Makdisi, “The Hanbali School and Sufism”, Humaniora Islamica, 2 (Januari, 1974), 61.
Wael B. hallaq, “A Tenth-Elevent Century Treatise on Juridical Dialectic”, Muslim World, 77(1987), 197-228.

c) Pengutipan Terjemahan
Untuk sunbr yang diterjemahkan dari bahasa asing, judul sumber yang ditulis adalah judul terjemahan. Judul aslinya dalam bahasa asing tidak boleh disebutkan. Cara penulisan identitas sumber persis sama dengan ketentuan yang sudah diberikan, hanya ada tambahan ter, untuk tanda penerjemah.
Contoh:
C. Snouck Hurgronje, Islam di Hindia belanda,ter. S. Gunawan (Jakarta: Bhratara Aksara, 1983), 45

d) Penulis Gelar dan Nama
Segala macam gelar yang dicantumkan di depan atau di belakang nama seorang penulis tidak perlu disebutkan dalam kutipan.
Jika penulis hanya memiliki satu nam (single name), maka nama satu-satunya tersebut yang disebutkan.
Contoh:
Huzairin, hukum kekeluargaan nasional (Jakarta: Tintamas, 1974), 50.

e) Pengutipan Ensiklopedi
Kutipan yang diambil dari Encyclopaedia ditilis nama penulis entry, tanda kutip buka, kom, judul entry, tanda petik tutup, koma, nama esiklopedi, vol. (volume) (jika ada), ed. (editor), et, al. (jika diperlukan), kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahunpenerbit, kurung tutp, koma, nomor halaman dan titik.
Contoh:
A. J. Wensink, “Kufr”, The First Eciclopaedia of Islam, vol. 7, ed .M. Th. Houtsma, et Al. (leiden: E.J. Brill, 1987), 234.

f) Pengutipan Tesis dan Disertasi
Kutipan yang diambil dari tesis atau disertasi yang tidak diterbitkan, caranya adalah dengan menuliskan nama penulis tests atau disertasi, koma, tanda petik buka judul tesis atau disertasi (ditulis biasa tidak miring), tanda,petik tutup, kurung buka, tesis atau disertasi, koma, nama perguruan tingi, tempat perguruan tinggi, tahun penulisan tesis atau disertasi, kurung tutup, koma, nomor halaman dan titik.
Contoh:
Bisri Affandi,”Shaykh Ahmad al-Shurkati: His Role in al-Irshad Movement”, (Tesis, McGill University, Montreal, 1976), 34.

g) Pengutipan Identitas Sumber yang tidak Jelas
Jika unsur dalam identitas sumber data terdapat yang tidak jelas atau hilang, maka harus dicantumkan tanda “kehilanganya”. Misalnya, jika tempat, nama atau tahun penerbitan tidak ada dalam sebuah buku atau jumal, maka harus diberi tandat.tp. (tanpa tempat [penerbit]), t,p. (tanpa [nama] penerbit) dan t.t (tanpa tahun[penerbit]). Di samping itu tanda tanya (?) juga harus dipakai, jika salah satu unsur dalam identitas tersebut diragukan karena tidak tertulis dengan jelek.
Contoh:
Al-Nawawi, al-Majmu ‘Sharh al muhadhdhab, vol.5 (t.tp.: al-Maktabah al-Salafiyah 1950), 34

h) Kutipan dan catatan kaki
 Kutipan
Menyisipkan kutipan-kutipan dalam sebuah tulisan ilmiah bukanlah merupakan suatu keaiban. Tidak jarang pendapat, konsep, dan hasil penelitian dikutip kembali untuk dibahas ditelah dikritik, dipertentangkan, atau diperkuat. Dengan kutipan sebuah tulisan akan terkait dengan penemuan-penemuan atau teori-teori yang telah ada. Namun demikian, kita hanya mengutip kalau memang perlu. Janganlah tulisan kita itu penuh dengan kutipan. Di samping itu kita harus bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan, terutama kutipan tidak langsung.
Dalam uraian sebelumnya sudah dipelajari bagaimana mencatat bahan-bahan dari buku dalam kartu informasi. Bahan-bahan tersebut mungkin dicantumkan dalam tulisan sebagai kutipan. Kutipan ini dapat berfungsi sebagai:
a. Landasan teori
b. Sebagai penjelasan
c. Penguat pendapat yang dikemukakan penulis. Kutipan terdiri atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Yang masing-masing dibagi lagi atas kutipan panjang dan kutipan pendek.
1) Kutipan Langsung
 Kutipan Langsung Panjang
Kutipan langsung yang lebih dari tiga baris ketikan disebut kutipan langsung panjang. Kutipan semacam ini tidak dijalin dalam teks, tetapi diberi tempat tersendiri. Kutipan langsung panjang diketik dengan jarak baris satu spasi tunggal pada garis tepi baru yang jaraknya empat ketukan huruf dari garis margin. Indensi dari kalimat pertama tujuh ketukan dari garis tepi (margin) atau tiga ketukan dari garis tepi yang baru. Ingat, kutipan langsung panjang tidak diapit dengan tanda kutip.

Contoh:
. . . Banyak batasan yang telah dikemukakan mengenai pengertian definisi. Keraf, misalnya mengemukakan.
Definisi pada prinsipnya adalah suatu proses menempatkan suatu objek yang akan dibatasi ke dalam kelas yang dimasukinya (berarti klasifikasi lagi), dengan menyebutkan ciri-ciri yang membedakan objek tadi dari anggota-anggota kelas lainnya.
 Kutipan Langsung Pendek
Kutipan langsung dapat digolongkan ke dalam kutipan langsung pendek kalau. tidak melebihi tiga baris ketikan. Kutipan ini cukup dijalin ke dalam teks dengan meletakkannya di antara dua tanda petik.
Mengenai kalimat efektif Anton M. Moeliono mengemukakan, "Kalimat yang efektif dapat dikenal karena ciri-cirinya yang berikut: keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan keringkasan." Mengutip Sanjak.
Untuk kutipan langsung pendek, baris-baris dari sanjak dijalin ke dalam teks dan diletakkan di antara dua tanda kutip. Apabila kutipan lebih dari dua baris, tiap-tiap baris dipisahkan dengan garis miring.

Contoh:
Putu Arya Tirtawirya dengan tanya yang sahaja menyiratkan juga sikap religius, menyerah kepada-Nya. "Apa yang kau cari hatiku, si anak penakut/Resah jemari menguak Kitab/yang memantulkan Spektra hati yang paling dalam/Memancar dari Dia yang paling Kudus."
Kutipan langsung yang panjang untuk sanjak dengan sendirinya tidak dapat dijalin ke dalam teks. Sanjak dikutip seperti bentuk aslinya dan diletakkan di tengah-tengah, tanpa tanda petik.

2) Kutipan Tidak Langsung
Seorang ilmuwan dituntut untuk mampu menyatakan pendapat orang lain dalam bahasa ilmuwan itu sendiri yang mencerminkan kepribadiannya. Kutipan tidak langsung merupakan pengungkapan kembali maksud penulis dengan kata-katanya sendiri. Jadi, yang dikutip hanyalah pokok-pokok pikiran, atau ringkasan dan kesimpulan dari sebuah tulisan, kemudian dinyatakan dengan bahasa sendiri. Walaupun yang dikutip dari bahasa asing, tetapi tetap dinyatakan dengan bahasa Indonesia.

a) Kutipan Tidak Langsung Panjang
Kutipan tidak langsung (parafrase) sebaiknya dilakukan sependek mungkin, diperas sedemikian rupa sehingga tidak lebih dari satu paragraf. Namun, karena sesuatu hal kutipan tidak langsung dapat melebihi satu paragraf. Kutipan tidak langsung yang lebih dari satu paragraf inilah yang disebut kutipan tidak langsung yang panjang.
Untuk parafrase yang lebih dari satu paragraf ini menimbulkan kesulitan bagaimana mengidentifikasi bahwa paragraf-paragraf itu me¬rupakan kutipan, karena gaya penulisannya sama dengan gaya.penulis. Untuk mengatasi kesulitan ini, yaitu dengan menyebutkan nama penu¬lis yang dikutip pada permulaan parafrase dan memberikan angka ca¬tatan kaki pada akhir kalimat parafrase.
Contoh:
Bagaimana wujud penalaran ilmiah itu di dalam pelaksanaannya? Berikut ini dikemukakan penjelasan Shurter dan Pierce.
Penalaran induktif merupakan proses penalaran untuk menarik suatu prinsip/sikap yang berlaku umum atau suatu kesimpulan yang bersifat khusus berdasarkan atas fakta-fakta khusus. Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi, analogi atau hubungan kausal. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi, inferensi tentang kebenaran suatu gejala khusus ditarik berdasarkan kebenaran gejala khusus yang bersamaan. Hubungan kausal adalah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat.
Penalaran deduktif adalah penalaran untuk menarik kesimpulan yang bersifat individual atau khusus dari suatu prinsip atau sikap yang berlaku umum. Penalaran itu mencakup bentuk silogisme, yaitu bentuk penalaran deduktif formal untuk menarik kesimpulan dari premis mayor dan premis minor. Kesimpulan di dalam silogisme selalu harus lebih khusus dari premis-premisnya. Bentuk penalaran deduktif lainnva ialah entimem, yaitu bentuk silogisme yang dihilangkan salah satu premisnya. Di dalam kehidupan sehari-hari bentuk inilah yang lebih banyak dipergunakan.
b) Kutipan Tidak Langsung Pendek
Parafrase yang terdiri dari satu paragraf disebut pendek. Sebaiknya parafrase pendek ini disediakan tempat tersendiri, tidak dibaur dengan teks. Akan lebih baik lagi parafrase itu diambil dari satu sumber. Akan tetapi jika ide, pendapat, atau kesimpulan yang dikutip itu berasal dari bermacam-macam sumber dan sangat mirip satu sama lain, lebih balk diparafrasekan dalam satu paragraf dengan menyebutkan semua sumbernya dalam satu paragraf

Di Indonesia perielitian perkembangan kognitif dengan menggunakan perangkat tugas dari teori Piaget dan perangkat tugas dari Bruner, pernah dilakukan oleh tim penelitian dari Universitas Kristen Satya Wacana dengan menggunakan 144 orang sampel dari Salatiga.

 Mengutip dari Kutipan
Mengutip dari kutipan harus dihindari. Tetapi dalam keadaan terpaksa, misalnya sulitnya menemukan sumber aslinya, mengutip dari kutipan bukanlah merupakan suatu pelanggaran. Apabila seorang penulis terpaksa mengutip dari kutipan, Ia harus bertanggung jawab terhadap ketidak tepatan dan ketidak telitian kutipan yang dikutip. Selain itu pengutip wajib mencantumkan dalam catatan kaki bahwa Ia mengutip sumber itu dari sumber lain. Kedua sumber itu dituliskan dalam catatan kaki dengan dibubuhi keterangan "dikutip dari".

9. Penulisan Bibliografi
Semua sumber yang digunakan sebagai rujukan dalam penulisan karrya ilmiyah harus dicantumkan dalam bibliografi. Teknik penulisan sumber dalam bibliografi untuk identitas sumber dalam bentuk buku, yaitu susunan nama harus dibalik, nama akhir diikuti dengan nama awal. Jika penulis memiliki nama tengah maka nama tengah ditulis setelah nama awal. Setiap unsur identitas dalam bibliografi selalu diakhiri dengan titik. Koma hanya digunakan hanya ketika memenggal nama ahkir dan nama awal, di awal penulisan dan nama penerbitan dan tahun penrbitan, sedangkan antara tempat penerbitan dan nama penerbitan ditulis titik dua.
Contoh:
Basyir, Ahmad Azhar. Refleksi Atas Persoalan Ke-Islaman. Bandung: Mizan, 1993.
Gani, BustamiA. Beberapa Aspek Ilmiah tentang al Qur’an. Jakarta: Litera Antarnusa, 1994.
Hasan, Fuad. Heteronomia. Jakarta: Pustaka Jaya, 1997.















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Memberikan antusias bagi semua orang dalam pembuatan karya ilmiyah yang baik dan benar, dan menggunakan kaidah yanga ada dalam bahasa Indonesia.
2. Mengetahui arti karya ilmiyah sehingga penggemar karya tulis ilmiyah tahu betul apa itu karya ilmiyah.
3. Member bekal dalam penulisan keya ilmiyah agar tidak salah dalam pembuatannya.

B. Saran-saran
1. Seluruh penggemar karya tulis ilmiyah di harapkan untuk mau aktif dalam membuat penelitian-penelitian baru yang di tuang dalam karya tulis ilmiyah sehingga memberikan antusias kepada si pembaca
2. Bagi pengelola pendidikan karya ilmiyah ini dapat di jadikan sebagai sarana dalam bidang tulis menulis, sehingga dapat membentuk organisasi yang bias membuat penelitian-penelitian baru.
3. Diharapkan kepada semua orang yang senang membuat karya tulis ilmiyah untuk aktif dalam menulis dan meneliti sebuah masalah di kalangan masyarakat dalam sebuah karya ilmiyah.









DAFTAR PUSTAKA

Rosyidi, Imron. Ayo Senang Menulis Karya Tulis Ilmiah.Jakarta: Media Pustaka. 2005.
Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel Surabaya. Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Ilmu Agama Islam. Surabaya. 2007

No comments:

Post a Comment

Post a Comment