Tuesday, April 27, 2010

TUHAN MENURUT EMHA AINUN NAJIB


Sejumlah parpol mengalami perkembangan, sejumlah parpol mengalami penurunan, dsb. Tadi malam saya didatangi teman-teman PKS dan mereka, selama menjelang pemilu, disinisi oleh sesama partai Islam, karena caleg mereka yang di Irian Jaya, 30% adalah penganut Katolik, dan jumlahnya cukup besar. Itu dijadikan alat untuk menjelekkan PKS dst.

Apakah PKS termasuk yang akan membawa syariat Islam? Seandainya PKS pun membawa syariat Islam, saya setuju-setuju saja syariat Islam diterapkan.

Tahu nggak syariat Islam itu apa?

Syariat Islam itu adalah sebuah otoritas yang membuat orang Kristen bisa menjadi orang Kristen. Syariat Islam adalah, Anda mau milih gatoloco, pilihlah gatoloco. Yang mau milih agamanya Anand Krishna, pilihlah Anand Krishna. Itulah syariat Islam. Syariat Islam adalah satu peluang dimana setiap manusia, "laa ikrahaa fiddiin qad tabbayyanaa rusydu minal ghaiy", sudah jelas baik dan buruk bagi setiap orang dengan keyakinannya masing-masing dan setiap orang berhak memilih pilihannya masing-masing. Dan itu dijamin oleh syariat Islam.

Jadi kalau ada syariat Islam kok memaksa orang jadi Islam, itu bukan syariat Islam. Asal syariat Islam seperti itu ya ndak masalah, to? Kalau mau maling, malingo sak karep-mu, cuman kalau ketemon aku, tak kaplok, gitu saja...

Artinya hukum berlaku, akal sehat berlaku, cinta berlaku, kebencian berlaku, tapi masing-masing dengan resikonya sendiri-sendiri. Benci boleh nggak? Boleh-boleh juga, cuman ada resikonya. Anda ngentutin Tuhan itu boleh kok, dengan resiko masuk neraka... Tiap hari pekerjaan Tuhan dihina kan?

Orang bikin karya seni dengan gambar bagus, musik bagus, tapi tidak ada yang untuk Tuhan sama sekali. Padahal yang kasih kreativitas Tuhan, yang kasih warna Tuhan, yang kasih semua Tuhan, tapi tidak ada yang untuk Tuhan sama sekali. Dan Tuhan setiap hari dihina dan Tuhan setiap hari tidak merasa terhina oleh hinaan itu.

Jadi Tuhan tidak butuh Anda, mau baik mau buruk, Tuhan tidak butuh, itu urusanmu masing-masing, engkaulah yang butuh. Kalau kamu sembahyang taat sama Dia, Tuhan tidak besar kepala, dan tidak menjadi lebih besar. Anda benci sama Tuhan, dan berkhianat sama Tuhan, Tuhan ndak pathe'en juga, sak karep-mu... Tuhan itu tidak butuh apa-apa dan tidak akan berkurang kebesaran-Nya maupun keagungan-Nya oleh segala kelakuan kita. Tuhan tidak butuh demokratis, Tuhan tidak terikat sama siapa-siapa. Mau diktator boleh, mau demokratis boleh, wong punya-punyaKu sendiri, Aku buat-buat sendiri. Jadi Dia berhak untuk diktator. Tuhan itu, satu-satunya yang berhak untuk diktator.

Anand Krishna ditakdirkan untuk hidup di Indonesia, terserah Tuhan, tidak ditaruh di Etiophia, tidak ditaruh dimana, itu terserah Tuhan. Tergantung negosiasi kalian sama Tuhan, dan terserah Dia juga.

Ndak ada masalah kan itu?

Emha Ainun Najib
Kenduri Cinta, 09 April 2004
"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh. Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"
"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."
Gunung Jangan Pula Meletus
Oleh Emha Ainun Nadjib
KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?
Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.
"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!," aku menyerbu.
"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.
"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"
"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga."
"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?"
"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."
"Termasuk Kiai...."
Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.
"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?"
Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.
"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya.
Aku menjawab tegas, "Ya."
"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"
"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan."
"Sampai kapan?"
"Sampai kapan pun!"
"Sampai mati?"
"Ya!"
"Kapan kamu mati?"
"Gila!"
"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!"
"“Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter...."
Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.
"Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."
"Kewajiban apa?"
"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah. Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-"Kupinjamkan dinding ini kepadamu...."
"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.
"Pakailah sesukamu."
"Emang untuk apa?"
"Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."
"Sinting!"
"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh."
Ia membawaku duduk kembali.
"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.
"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu ’alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"
Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.
"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim...."
"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak yakin?"
"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."
"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi."
"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."
"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?"
"Aceh, Kiai, Aceh."
"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".
"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan."
"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan– berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati."
"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?"
"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"
"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."
"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup."
"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan...."
"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur."
"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?"
"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan...."
"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.
"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.
"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...."
"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"
Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.
Emha Ainun Nadjib Budayawan
Syair Penjual Kacang
Senin, 10 September, 2007 in Artikel



Al-Habib, seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami shalat Isya’ suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.
Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikkan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.
”Salah satu dari kalian keluarlah sejenak dari ruangan ini,” katanya, ”Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”
Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.
”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”
Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.
”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”
”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”
Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya.
Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”
Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”
”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”
Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ”Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan…” – salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat.
1987 (Emha Ainun Nadjib)
CARA MENGECILKAN PERUT
WEBSITE INI MEMBAHAS CARA MENGECILKAN PERUT YANG TERBAIK DAN YANG PALING SEDERHANA HINGGA CARA PENGECILAN PERUT YANG MODERN. GUNAKAN FITUR SEARCH UNTUK MENCARI METODE YANG ANDA INGINKAN. SEMUA METODE DALAM WEBSITE INI MERUPAKAN HASIL REKOMENDASI PARA MEMBER MILIS.
Enter your search terms Submit search form

Web
CARA MENGECILKAN PERUT



« Home | [Xtra-L_Community_Indonesia] Undangan dari Cosmo M... »

2008년 1월 30일 수요일
[Xtra-L_Community_Indonesia] Tulisan Emha Ainun Nadjib
berikut adalah tulisan Cak Nun di Koran Sindo 18 Jan 2008. Menjelang
wafatnya Pak Harto :
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Selamat Tinggal Pak Harto
SAAT berumur 4-9 tahun,kalau malam saya tidur di langgar (musala).
Kalau tidur siang, saya memilih di kuburan atau tepi sungai, tanggul
Kali Gede.Ayah saya punya sekolah dasar (SD),tetapi saya bersekolah
di sekolah tetangga desa jauh.
Berangkat dan pulang melintas tiga kali hamparan sawah, dan pada
suatu siang yang sangat terik, karena haus, tiba-tiba saja saya
mengambil sebuah krai (mentimun hijau) dan langsung saya makan.
Ternyata ada pemilik sawah itu,marah- marah, meneriaki saya sebagai
pencuri dan saya lari pontang-panting.
Sampai rumah,sambil gemetar saya ke langgar dan salat dhuhur untuk
minta ampun kepada Allah.Tetapi rupanya Ibu saya sudah menunggu di
luar langgar. Begitu saya selesai salat, beliau langsung ambil
tangan saya sambil menjewer telinga saya: diseret ke jalan, sampai
jauh, ternyata menuju rumah Pak Tani pemilik tanaman krai.
Saya disuruh menceritakan kembali kepada Pak Tani apa yang saya
lakukan, kemudian saya harus minta maaf. Ibu saya juga menambahkan
permintaan maaf kepada Pak Tani krai. Baru kemudian Ibu saya
tersenyum, mengajak saya pulang,langsung diantar ke langgar lagi dan
diperintahkan untuk salat ashar,kemudian membaca istighfar 1.000
kali.
Itulah yang pada tanggal 21 Mei 1999 saya lakukan kepada Pak
Harto.Saya bertemu beliau dan bilang "Pak Harto sekarang ini
Sampeyan bicara apa saja di forum apa saja dan di media mana saja
tak akan dipercaya siapa pun." "Tetapi masih ada satu forum yang
terbuka bagi Pak Harto, yakni 'Forum Ikrar Husnul Khatimah (akhir
yang baik)',Pak Harto bertekad untuk membayar semua dosa dan
memastikan mengakhiri sisa kehidupan dengan kebaikan- kebaikan".
Kami ngobrol sejenak kemudian merumuskan 4 (empat) sumpah Soeharto
kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan rakyat Indonesia: Bahwa
saya,Soeharto, bersumpah tidak akan pernah menjadi Presiden Republik
Indonesia lagi. Bahwa saya, Soeharto, bersumpah tidak akan pernah
turut campur dalam setiap proses pemilihan Presiden Republik
Indonesia.
Bahwa saya, Soeharto, bersumpah siap dan ikhlas diadili oleh
pengadilan negara untuk mempertanggungjawab kan segala kesalahan
saya selama 32 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia. Bahwa
saya,Soeharto, bersumpah siap dan ikhlas mengembalikan harta rakyat
yang dibuktikan oleh pengadilan negara.
Beliau menandatanganinya, kemudian saya tinggali beberapa wirid dan
rencana membacakan sumpah itu melalui sebuah upacara di Masjid
Baiturrahim DPR pada 21 Mei 1999. Beberapa media menyebut rencana
acara itu dengan istilah "taubat nasuha"- Pak Harto saya ajak
bertobat, begitulah-tanpa saya pernah menyebut kata itu. Sejumlah
pengamat politik nasional mewaspadai hal itu dengan menyimpulkan
bahwa "Emha adalah mesin politiknya Soeharto di bidang agama dan
berusaha menghindarkan Soeharto dari pengadilan negara".
Sangat rasional tudingan itu menurut ilmu politik konvensional,
tetapi sebab utama kesimpulan itu adalah karena politisi itu tidak
pernah mencuri krai seperti saya. Pak Harto ke Baiturrahim pada 21
Mei 1999 itu, seperti saya salat dhuhur sehabis mencuri krai. Ibu
menertawakan saya karena Tuhan baru mengampuni dosa seseorang kalau
yang berdosa sudah mempertanggungjawab kan dosanya kepada orang yang
didosai- dalam kasus Pak Harto berarti seluruh bangsa Indonesia.
Sesudah Pak Harto bersumpah dan pasti tanpa saya suruh beliau tidak
terlalu durhaka untuk tidak minta ampun kepada Allah. Sebagaimana
terkandung dalam butir wirid-wirid yang saya berikan yang berisi
pertobatan, namun tak pernah saya katakan kepada Pak Harto hal-hal
mengenai tobat, apalagi taubatan nasuha.
Kalau api padam si api tak perlu bikin laporan atau pernyataan bahwa
dia padam. Tetapi permohonan ampun Pak Harto kepada Allah tak akan
diterima sebelum dia mempertanggungjawab kan kesalahannya kepada
rakyat Indonesia. Artinya, momentum ikrar husnul khatimah itu
menegaskan dan mempercepat keharusan adanya pengadilan kepada Pak
Harto.
Kalau tak ada pengadilan atas Pak Harto, maka husnul khatimah tak
akan tercapai. Namun, berhubung tidak ada pihak yang percaya pada
logika dan policy saya itu, terutama para pengamat politik, maka
beberapa saat sesampainya saya dan banyak teman di Masjid
Baiturrahim DPR saya mengambil keputusan untuk menelepon Pak
Harto,"Selamat tinggal di rumah Pak, Pak Harto ndak usah ke
Baiturrahim deh.
Pak Harto ikrar dan wiridan sendiri saja di rumah." Kemudian kepada
hadirin dan wartawan yang datang pagi itu saya omong barang satu
sampai dua menit: "Saudarasaudara, acara ikrar husnul khatimah saya
batalkan, saya minta Pak Harto tidak usah datang. Saya akan
mempertimbangkan akan melaksanakan acara itu atau tidak nanti
sesudah Anda dan para pendekar republik menyeret Pak Harto ke
pengadilan.Saya menyiapkan satu jari-jari saya untuk dipotong kalau
sampai terjadi Pak Harto duduk di kursi terdakwa pengadilan negara
Republik Indonesia".
Kemudian era reformasi makin marak. Indonesia makin jaya. Demokrasi
dan kemajuan bangsa tak terbendung. Indonesia memancarkan cahaya,
meningkat derajat kebangsaannya dan martabat kenegaraannya.
Dunia makin hormat dan segan kepada NKRI.Setiap kali Soeharto sakit,
para pahlawan riuh rendah teriak-teriak akan mengadilinya. Begitu
Pak Harto sehat, mereka serak suaranya sehingga tidak teriak lagi.
Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunggu Pak Harto koma
dulu untuk mengutus orangnya menawarkan ini itu kepada keluarga
Cendana. Kadang-kadang ingin ada perkelahian besar yang jantan dan
lanang, sebab teater mengancam orang pingsan dan mendemo orang koma
sudah overload.(*)
EMHA AINUN NADJIB

Komunitas Xtra-L Indonesia
1.Milis ini adalah milis lintas agama, ras, suku dan usia, status, profesi
2.Topik bahasan disarankan tidak menyinggung SARA
3.Moderator berhak untuk menolak permintaan-gabung calon anggota dan mengeluarkan anggota dari komunitas jika melakukan hal-hal yang bersifat SARA atau memasang posting yang berhubungan dengan MLM dan money game
3.Moderator berhak mengedit/menolak pasang message posting dan E-mail sebelum diteruskan ke anggota komunitas yang lain
4.Dilarang memposting pesan-pesan bermuatan penjualan jasa, MLM dan money game
5.Pesan bermuatan penjualan barang hanya akan disetujui jika Moderators mengenal si penjual dan mengetahui jenis barang yang dijual
6.Penjualan hanya diutamakan yang berhubungan dengan misi, visi dan tujuan milis ini, yaitu ditujukan untuk orang2 yang berukuran tubuh Xtra-L atau lebih
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Xtra-L_Community_Indonesia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Xtra-L_Community_Indonesia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:Xtra-L_Community_Indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:Xtra-L_Community_Indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
Xtra-L_Community_Indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
오전 5:23 | Permalink
No comment
Post a Comment
For more details, see the other blog. Click here


Previous posts
• [Xtra-L_Community_Indonesia] Undangan dari Cosmo M...
• Re: [Xtra-L_Community_Indonesia] Re: Kuesioner ke ...
• [Xtra-L_Community_Indonesia] Tanda tanda kalo cowo...
• Re: Fwd: Re: [Xtra-L_Community_Indonesia] Re: mode...
• [Xtra-L_Community_Indonesia] Re: model BIG / NDUT ...
• [Xtra-L_Community_Indonesia] Fwd: Event ke-3, Roa...
• [Xtra-L_Community_Indonesia] Integritas diri
• [Xtra-L_Community_Indonesia] Request lirik lagu--T...
• Re: Fwd: Re: [Xtra-L_Community_Indonesia] Re: mode...
• [majalah-fit] Salam kenal
Archives
• 5월 2007
• 1월 2008
• 2월 2008
• 3월 2008
• 4월 2008
• 5월 2008
• 6월 2008
Blogroll

Live traffic feed
Surabaya, Jawa Timur arrived from google.co.id on "CARA MENGECILKAN PERUT: [Xtra-L_Community _Indonesia] Tulisan Emha Ainun Nadjib"

Indonesia arrived from google.co.id on "CARA MENGECILKAN PERUT: [diet-sehat-menyenangkan] Tips Hidup sehat dengan konsumsi makanan bebas pencemaran!!!, 3/1/2008, 12:00 am"

Semarang, Jawa Tengah arrived from google.co.id on "CARA MENGECILKAN PERUT: [diet-sehat-menyenangkan] Tips Hidup sehat dengan konsumsi makanan bebas pencemaran!!!, 3/31/2008, 12:00 am"

Semarang, Jawa Tengah arrived from google.com on "CARA MENGECILKAN PERUT: 1월 2008"

Semarang, Jawa Tengah arrived from google.co.id on "CARA MENGECILKAN PERUT: [diet-sehat-menyenangkan] Jalanin MLM Tanpa Harus Belanja,Tanpa Jualan..?? BefinEXPRESS Solusinya!!"

Yogyakarta, Yogyakarta arrived from google.co.id on "CARA MENGECILKAN PERUT: [diet-sehat-menyenangkan] PRODUK LEBAH : Ciptaan Tuhan yang Berharga untuk Manusia"

Brazil arrived from google.com.br on "CARA MENGECILKAN PERUT: 3월 2008"

Indonesia arrived from google.co.id on "CARA MENGECILKAN PERUT: [Xtra-L_Community _Indonesia] Lowker - Technical data support/marketing support"

Surabaya, Jawa Timur arrived from cara-mengecilkan- perut.blogspot.co m on "CARA MENGECILKAN PERUT: [diet-sehat-menyenangkan] Tahukah Anda setiap hari tubuh Anda di masuki zat-zat berbahaya melalui makanan, 6/20/2008, 12:00 am"

Surabaya, Jawa Timur arrived from cara-mengecilkan- perut.blogspot.co m on "CARA MENGECILKAN PERUT: [diet-sehat-menyenangkan] Tahukah Anda setiap hari tubuh Anda di masuki zat-zat berbahaya melalui makanan, 6/20/2008, 12:00 am"

Options>>


Click to get FEEDJIT


• Feedjit Live Blog Stats

TULISAN GOENAWAN MOHAMAD YANG DITOLAK MAJALAH FORUM.
Catatan dari Goenawan Mohamad:
Tulisan ini adalah tanggapan atas sebuah tulisan Emha Ainun Nadjib di
majalah Forum, yakni Indonesia di Antara Rendra dan Goenawan.
Pemimpin Redaksi Majalah Forum mula-mula menolak untuk memuat tulisan ini.
Diperoleh keterangan dari redaksinya, bahwa ia takut, karena tulisan ini
dinilai terlalu menyerang Pemerintah. Setelah saya memprotes, bahwa saya
punya hak untuk menjawab, akhirnya tulisan ini dimuat, bukan sebagai
kolom, tetapi sebagai surat dari pembaca -- dan sudah dipotong.
Versi yang lengkap adalah seperti ini.
POKOK, BUKAN TOKOH
oleh Goenawan Mohamad
Cerita perlu tokoh. Atau lebih tepat: si pendengar dan si pencerita selalu
perlu tokoh. Mahabharata dikisahkan sebagai perang antara sejumlah
pangeran. Kita tak pernah peduli apakah di dalamnya ada rakyat banyak yang
terlibat. Dalam abad media massa, tokoh bahkan kian mendesak pokok: ingat
saja Lady Di atau Rendra. Orang tenar telah jadi komoditi laris. Di
Indonesia tendensi ini kian kuat karena semakin kuat komodifikasi
informasi. Tapi juga karena kehidupan kian didominasi oleh politik yang
tidak melibatkan orang banyak: politik hanya keributan sejumlah VIP, dan
massa hanya dianggap mengapung, seperti bangkai.
Dengan pengantar itu saya ingin menanggapi tulisan oleh Emha Ainun Nadjib,
Indonesia Di Tengah Rendra dan Goenawan. Tulisan itu meletakkan Rendra dan
Goenawan Mohamad sebagai fokus. Nada dan isinya bijak, penuh imbauan
moral yang patut direnungkan. Tapi perkenanlah saya berbeda: saya ingin
agar tokoh, baik itu Rendra atau Goenawan, bukan jadi sesuatu yang sentral
dalam persoalan ini.

Kalau saya tak salah dalam menyaripatikan tulisan Emha Ainun Nadjib tadi,
persoalannya menyangkut soal prinsip kemerdekaan pers dan penilaian yang
tepat terhadap kompromi dalam hidup di Indonesia sekarang. Kebetulan itu
kini menyangkut perbuatan Rendra dan Goenawan.
Kata kebetulan perlu digarisbawahi. Dengan berfokus pada dua orang itu,
rasanya kita cuma akan membuat perkara jadi terlalu kenes dan terbatas.
Marilah kita ingat bahwa pada mula dan pada intinya adalah pembungkaman.
Di tahun 1973, 1978, 1982, dan entah kapan lagi di masa Orde Baru ini,
pembredalan terjadi. Di tahun 1994 juga. Tetapi apa yang menyusul
pembredelan 1994 sama sekali berbeda. Setelah pembredelan terhadap Tempo,
DeTik dan Editor itu. dua hal terjadi, yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Yang pertama adalah demonstrasi protes di Jakarta, Yogya, Surakarta,
Bandung, dan (terakhir baru saya ketahui kemudian) juga di Ujung Pandang.
Turun ke jalan menentang pembredelan adalah tanpa preseden. Bukan karena
ketiga majalah yang dibredel itu hebat pengaruhnya -- dan sudah tentu
bukan karena menyangkut Goenawan Mohamad, Eros Djarot dan Marah Sakti.
Demonstrasi terjadi karena ada sesuatu yang kian berubah dalam masyarakat
kita. Yakni: semakin kuatnya kesadaran akan hak -- satu hal yang wajar
ketika ekonomi tumbuh dan orang mulai tahu apa arti milik dan daya. Kali
ini, orang mulai merasakan urgensinya hak untuk mendapatkan dan memilh
informasi, terutama karena informasi itu tidak gratis.
Yang kedua adalah perubahan dalam cara penguasa mengontrol informasi.
Bila sebelumnya koran atau majalah yang dibredel (termasuk Tempo) boleh
terbit kembali, tanpa mengubah kontrol dari dalam penerbitan, maka di
tahun 1994 pemerintah memantapkan suatu yang baru: kuasai penerbitan itu
dari perusahaannya, tidak cuma dari luarnya.
Itulah yang terjadi dengan Tempo. Setelah ia dimatikan, sebuah perusahaan
baru didirikan untuk menerbitkan majalah penggantinya (kemudian disebut
Gatra), dengan pemodal Bob Hassan, pengusaha yang dekat dengan pemegang
kekuasaan. Dalam hal Editor, si pemodal baru adalah A. Latif, pengusaha
sekaligus menteri.
Dalam hal DeTik, taktik penguasaan dari dalam itu gagal karena para
wartawannya dengan berani dan cerdik -- mereka tak melanggar hukum apapun
-- masuk ke koran mingguan Simponi. Usaha ini digagalkan oleh Menteri
Penerangan dengan menyuruh PWI menekan pemimpin redaksi Simponi. Dengan
dengan demikian wartawan DeTik telah disewenang-wenangi dua kali. Sampai
hari ini mereka masih belum dapat tempat bekerja kembali. Jika satu
tabloid seperti DeTik muncul nanti, boleh diintip siapa orang yang di
dalamnya...
Penguasaan dari dalam seperti itu (seperti di Singapura) akan menyebabkan
tak diperlukan lagi tindakan membredel. Pembredelan terbukti bisa
menghebohkan -- apalagi setelah kemenangan Tempo di PTUN dua kali. Lain
kali, dengan penguasaan dari dalam, untuk menertibkan, penguasa cukup
mengadakan reshuffle di pimpinan.
Malah sebelum Tempo dibredel pun ada usaha penguasa agar pemimpin
redaksinya, Fikri Jufri (yang menggantikan saya) dipecat. Kami menolak.
Mungkin sebab itu pula lima hari setelah Tempo dibredel, pimpinan Tempo
dipanggil seorang tokoh untuk ditawari pilihan: boleh terbit kembali kalau
hak diserahkan kepada sang tokoh (yang namanya belum bisa saya ungkapkan)
buat mengangkat pimpinan redaksi.
Kemudian, belum lagi 10 hari setelah pembredelan, sebuah perusahaan baru
sudah dirikan menurut akta. Perusahaan itu (PT Era Mandiri Informasi)
yang kemudian menerbitkan Gatra, dan pemodalnya adalah Bob Hassan. Tapi
sebagian besar wartawan Tempo menolak masuk Gatra. Juga sejumlah besar
karyawan. Mereka bercita-cita memiliki sebuah majalah sendiri, dengan
kapital yang mereka cari sendiri. Mereka sadar betapa makin berbahayanya
cara baru dalam kontrol pers ini. Mereka sudah mengajukan permintaan untuk
dapat SIUPP. Tapi ditolak. Alasan yang diberikan: ijin itu hanya
diberikan pada Gatra.
Tapi mereka tetap menampik masuk Gatra, dan lebih baik bekerja tersebar di
pelbagai tempat, saling menolong, dengan nafkah dan kepastian kerja yang
terbatas. Mereka memlih, kalau perlu, dalam posisi duafa.
Beberapa saat setelah mereka mengambil keputusan untuk menolak
kesempatan ke Gatra, saya menemui mereka. Jika waktu itu saya menangis,
itu karena saya terharu oleh mereka, saya cemas akan mereka. Mereka
menunjukkan suatu sikap yang mengejutkan untuk zaman yang sinis ini: tidak
takut putus nafkah dan berantakan, untuk membela sebuah pendirian yang
sederhana. Di antara mereka adalah Ahmad Taufik, yang juga aktivis Aliansi
Jurnalis Independen (AJI), yang bersama tiga orang lagi kini dipenjarakan
penguasa.
Sejak itu saya memutuskan: saya memilih sepenuhnya untuk bersama mereka.
Pada mulanya memang saya coba jembatani, dengan hati-hati, antara sebagian
dari pimpinan Tempo yang berunding untuk masuk ke Gatra dengan para
penolak itu. Tapi akhirnya saya sadar: saya harus memihak.

Perbedaan pilihan yang terjadi telah menyebabkan rusaknya banyak
persahabatan di antara kami, tetapi saya tahu kenapa hal itu tak bisa
dielakkan: ini bukan hanya perbedaan pilihan karir, ini juga perbedaan
sikap dasar -- juga perbedaan dalam rasa setiakawan.
Patutkah rasanya untuk membela sebuah sikap yang buru-buru menerima
tawaran nyaman dari yang berkuasa dan berduit? Bisakah kita enggan untuk
bersama dengan mereka yang, dalam pergulatan in, tak punya kuasa dan tak
punya duit? Maka saya pun larut jadi bagian dari suara yang mencoba
bertahan merdeka itu (dengan mulut yang kering itu).
Saya tak memilih jadi auteur, karena saya sadar bahwa dalam hal ini saya
sebenarnya diciptakan, bukan menciptakan. Lakon ini bukan lagi sekedar
kisah Tempo dan Gatra sebagai dua pilihan tempat cari nafkah. Yang saya
saksikan adalah kisah sebuah tindakan, dari sejumlah orang, kebanyakan
muda, yang waspada akan penguasaan media cara baru, dan tak ingin
ditaklukkan. Ada atau tidak ada saya dan Rendra, itu akan berjalan
sendiri. Ia akan tercatat dalam sejarah, dengan gemilang, tersendiri.***

Hijrah dan Kultus Individu
Oleh EMHA Ainun Nadjib

Tidak ada satu peristiwa apa pun dalam kehidupan yang dihuni
oleh manusia ini yang tidak bersifat hijrah. Seandainya pun
ada benda yang beku, diam dan seolah sunyi abadi: ia tetap
berhijrah dari jengkal waktu ke jengkal waktu berikutnya.
Orang jualan bakso menghijrahkan bakso ke pembelinya, dan si
pembeli menghijrahkan uang ke penjual bakso. Orang buang
ingus, buang air besar, melakukan transaksi, banking, ekspor
impor, suksesi politik, revolusi, apapun saja, adalah hijrah.
Inti ajaran Islam adalah hijrah. Icon Islam bukan Muhammad,
melainkan hijrah. Muhammad hanya utusan, dan Allah dulu bisa
memutuskan utusan itu Darsono atau Winnetou, tanpa ummat
manusia men-demo Tuhan kenapa bukan Muhammad. Oleh karena itu
hari lahirnya Muhammad saw. Tidak wajib diperingati. Juga
tidak diletakkan sebagai peristiwa nilai Islam. Hari lahir
Muhammad kita ingat dan selenggarakan peringatannya
semata-mata sebagai peristiwa cinta dan ucapan terima kasih
atas jasa-jasanya melaksanakan perintah Tuhan.
12 Rabiul Awal bukan hari besar Islam sebagaimana Natal bagi
ummat Kristiani. Sekali lagi, itu karena Islam sangat
menghindarkan ummatnya dari kultus individu. Wajah Muhammad
tak boleh digambar. Muhammad bukan founding father of islam.
Muhammad bukan pencipta ajaran, melainkan pembawa titipan.
Tahun Masehi berdasarkan kelahiran Yesus Kristus, sementara
Tahun Hijriyah berdasarkan peristiwa hijrah Nabi, yang
merupakan momentum terpenting dari peta perjuangan nilainya.
Kesadaran hijriyah menghindarkan ummat dari penyembahan
individu, membawanya menyelam ke dalam substansi ajaran --
siapa pun dulu yang diutus oleh Tuhan untuk membawanya.
Hijrah adalah pusat jaring nilai dan ilmu. Dari gerak dalam
fisika dan kosmologi hingga perubahan dan transformasi dalam
kehidupan sosial manusia. Manusia Muslim tinggal bersyukur
bahwa wacana dasar hijrah sedemikian bersahaja, bisa langsung
dipakai untuk mempermatang cara memasak makanan, cara
menangani pendidikan anak-anak, cara mengurus organisasi dan negara.
Hijrah Muhammad saw. dan kaum Anshor ke Madinah, di samping
merupakan pelajaran tentang pluralisme politik dan budaya,
juga bermakna lebih esoterik dari itu.
Peristiwa Isra' Mi'raj misalnya, bisa dirumuskan sebagai
peristiwa hijrah, perpindahan, atau lebih tepatnya
transformasi, semacam proses perubahan atau 'penjelmaan' dari
materi ke (menjadi) energi dan ke (menjadi) cahaya.
Sebenarnya sederhana saja. Kalau dalam ekonomi: uang itu
materi, kalau diputar atau digerakkan atau 'dilemparkan' maka
menjadi enerji. Itu kejadian isro' namanya. Tinggal kemudian
enerji ekonomi itu akan digunakan (dimi'rajkan) untuk
keputusan budaya apa. Kalau sudah didagangkan dan labanya
untuk beli motor: motornya dipakai untuk membantu anak sekolah
atau sesekali dipakai ke tempat pelacuran.
Di dalam teknologi, tanah itu materi. Ia bisa
ditransformasikan menjadi genting atau batu-bata. Logam
menjadi handphone, besi menjadi tiang listrik, atau apapun.
Tinggal untuk apa atau ke mana mi'rajnya.
Peristiwa isro' bergaris horisontal. Negara-negara
berteknologi tinggi adalah pelopor isro' dalam pengertian ini.
Pertanyaannya terletak pada garis vertikal tahap mi'raj
sesudahnya. Kalau vertikal ke atas, berarti transform ke atau
menjadi cahaya. Artinya produk-produk teknologi didayagunakan
untuk budaya kehidupan manusia dan masyarakat yang menyehatkan
jiwa raga mereka dunia akhirat. Kalau garis vertikalnya ke
bawah, berati transform ke atau menjadi kegelapan. Mesiu Cina
diimport ke Eropa menjadi peluru, meriam dan bom. Kita bisa
dengan gampang menghitung beribu macam produk teknologi isro'
pemusnah manusia, perusak mental dan moral masyarakat.
Dalam pengertian umum dan baku selama ini, Isra' Mi'raj selain
merupakan peristiwa besar dalam sejarah, namun pada umumnya
berhenti sebagai wacana dongeng, dan belum digali
simbol-simbol berharganya atas idealitas etos tranformatif.
Dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan rumus di atas,
segala sesuatu yang menyangkut kehidupan manusia-baik di
bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan sebagainya-terjadi
secara berputar membentuk bulatan. Yang sehari-hari sajapun:
badan kita (materi), tentu, jika tidak diolah-ragakan
(dienergikan), mengakibatkan tidak sehat. Tidak sehat adalah kegelapan.
Setelah badan kita sehat dan menyehatkan, lantas dipergunakan
untuk kegiatan yang baik, yang memproduk cahaya bagi batin
kehidupan kita, serta bermanfaat seoptimal mungkin bagi sesama
manusia dan alam-lingkungan
KOMPAS, Minggu, 14 Mei 2006

Indonesiaku
Mohamad Sobary

Aku berharap Indonesiaku juga Indonesiamu. Memang belum sangat jelas apakah Indonesiaku sama dengan Indonesia yang diteriakkan penyair Taufiq Ismail di dalam puisinya "Kembalikan Indonesia Kepadaku". Juga belum jelas apakah Indonesiaku sama dengan Indonesia yang dimaksud Bung Karno dalam "Indonesia Menggugat".
Banyak hal, ternyata, yang belum cukup jelas di dalamnya. Indonesiaku hasil sebuah dialog dan negosiasi politik yang lama, melelahkan, dan menyita kesabaran, dan membutuhkan toleransi terhadap semua kemungkinan aspirasi yang bermunculan dari sana sini. Tiap aspirasi harus diakomodasi dengan baik di dalam dan oleh semangat multikulturalisme yang tak henti-hentinya kita bangun.
Indonesiaku bukan hanya milikku, melainkan juga Indonesiamu, milikmu. Indonesiaku pelan-pelan kita dirikan di atas impian-impian dan aspirasi kultural yang sangat beragam, penuh variasi, penuh nuansa, dan membuat kita kaya, bagaikan taman bunga yang semarak dan harum dalam benak dan alam ideal kita.
Indonesiaku, pendeknya bukan sebutir kelereng, yang padat dan jelas sosoknya. Dengan akal pikiran aku bisa membayangkan bagaimana kira-kira rumusan politiknya. Tapi, aku belum bisa merasakannya dengan hati dan jiwaku karena rumusan-rumusan akal boleh jadi hanya bersifat teknis politis, dan itu pun di dalamnya bukan mustahil ada unsur "akal-akalan".
Selebihnya, konsensus politik sering tidak tulus mengabdi kepentingan bersama. Dalam tradisi kenegaraan kita, yang masih muda usianya, politik sering hanya berarti "tipu muslihat" untuk meraih kemenangan jangka pendek, dan tak peduli akan pentingnya membangun keadilan semesta alam bagi segenap warga negara dan manusia-manusia yang hidup di dalamnya.
Kerja politik sering agak sedikit dungu karena merasa sudah puas melihat "hasil" berupa terciptanya sosok besar sebuah "struktur" yang bagus wujudnya, tapi kering dan kosong, tanpa jiwa. Padahal, yang kita rindukan, dan hendak kita wujudkan, ialah "jiwa" ke-Indonesia-an, untuk memberi makna lebih riil pengertian "adil dan beradab" bagi semua kalangan. Juga, dan terutama, bagi mereka yang selama ini tertindas sepatu tentara, polisi, birokrat, pedagang, dan para politisi keparat yang telah menggadaikan jiwa mereka kepada semua setan yang membunuh kemanusiaan.
Indonesiaku hasil sebuah kerja kreatif, hasil imajinasi tentang apa yang luhur dan mulia, dalam ukuranku dan ukuran-ukuranmu semua, yang bukan hanya berbeda, melainkan juga berkebalikan satu sama lain. Tapi, tak berarti aku boleh, dengan barisan massa milikku, mengusirmu pergi dari bumi milik Tuhan ini.
Kau pun tak akan bisa mengusirku dari tiap jengkal tanah di mana aku berpijak, karena di mana pun aku berada, aku tak menjejak di atas tanah warisan Engkong dan Kakek moyangmu, melainkan di atas bumi milik Tuhan kita, yang ramah dan serba akomodatif terhadap semua makhluk-Nya. Adaku di bumi ini merupakan wujud "Titah-Nya", "Kehendak-Nya" dan "Tanggung Jawab-Nya".
Jadi, bagaimana mungkin di antara kita, sama-sama umat beragama, sama-sama makhluk beriman, bahkan satu agama dan satu iman, tapi hendak singkang-menyingkang dan usir-mengusir? Bukankah dialog dan negosiasi kita tentang Indonesiaku, dan Indonesiamu, belum lagi selesai?
Aku tidak tahu adakah generasi demi generasi di atas kita sudah gagal merumuskan ke-Indonesia-an yang teduh, enak, dan membawa rasa nyaman bagi kita semua? Aku hanya tahu mereka sudah berusaha dengan segenap cinta, tanggung jawab dan kesediaan berkorban. Dan, generasi kita, yang mungkin lembek dan kurang wawasan, akan bersedia gagal mewujudkan Indonesiaku, dan Indonesiamu, yang kita inginkan bersama, dan kita lalu memilih baku bunuh seperti binatang di rimba raya?
Indonesiaku memang bukan sorgaloka, dan seharusnya juga bukan rimba raya. Maka, siapa bilang ia tak mungkin diubah menjadi sejenis sorgaloka yang bersedia memberi tempat bagi kita semua untuk bisa merasa aman dan nyaman di dalamnya.
Indonesiaku, sekeping negeri yang diciptakan Tuhan dengan kasih sayang dan tanggung jawab. Dengan kasih sayang dan tanggung jawab-Nya, diciptakan kita dalam corak yang berbeda warna kulit, etnisitas, tradisi, dan bahasanya, cara pandang dan sikap-sikapnya terhadap hidup. Dan, Tuhan memelihara semua jenis perbedaan itu.
Lalu apa hak kita, yang bukan nabi, bukan wali, dan bukan orang suci, untuk bersikap seolah kita nabi dan orang suci, atau wali, hingga di mata kita perbedaan menjadi musuh dan barang terkutuk serta harus dimusnahkan dari muka bumi? Siapa yang memberi kita hak, bersikap seolah kita Tuhan?
Kita tahu urusan "halal-haram" dengan baik, tapi mengapa yang "haram" hanya mereka, sedang bagi kita segala kebejatan yang paling haram kita bungkus dengan jubah putih agar tampak seperti halal? Adakah kau kira Tuhan terpesona melihat kelicikan seperti itu?
Politik memang bisa, dan selalu, menipu. Orang banyak, yang lemah status sosial-politiknya, mudah pula ditipu. Dan, kita puas melakukan penipuan demi penipuan selama Indonesiaku berdiri. Tapi, mengapa Tuhan pun kita tipu?
Di mana nafsu muthmainah, kecenderungan mulia, dan agung dalam hidup kita? Mengapa kebudayaan tak memberinya tempat? Mengapa politik membunuhnya?
Apa yang terbayang dalam benakmu ketika kita bicara Ketuhanan Yang Maha Esa? Kita mempreteli Ketuhanan, yang universal dan agung, menjadi kecil-kecil sesuai konsep Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, Kejawen, Sunda Wiwitan, Islam dan mengklaim yang lain salah, dan hanya tafsir kita yang benar. Kemudian, yang dianggap salah harus dibikin mati.
Adakah arti Ketuhanan di situ? Jangan nodai Indonesiaku karena ia juga Indonesiamu. Indonesiaku ini, aku tahu, Indonesia kita semua.
Emha Ainun - Toko dalam Toko Kelontong
Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul
melingkar,sering saya bertanya kepada forum: "Apakah anda punya
tetangga?". Dijawab serentak "Tentu punya"
"Punya istri enggak tetangga Anda?" "Ya, punya doooong"
"Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?" "Secara khusus, tak
pernah melihat "
"Jari-jari kakinya lima atau tujuh? " "Tidak pernah memperhatikan"
"Body-nya sexy enggak?" Hadirin tertawa lepas.
Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka: "Sexy atau tidak
bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati,
tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja".
Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak
usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang
lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian
bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah
disimpan didalam hati.
Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia
menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam
itu
benar, ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama
lain itu salah. Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi,
sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan
diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau
pertengkaran. Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri,
dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan
mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih
mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak
pakai
dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama
tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya.
Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya
gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk
mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana
karena
baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju
koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang
Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian
bareng-bareng bawa colt
bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.
Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga Berbagai parpol,
golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang
usaha
perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor
teologi masing-masing. Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur
gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan
remi bersama.
Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya
Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Jangankan kerja sama dengan
sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama
nyingkal dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dengan hati.
Itulah Maiyah.
Wasallam.
(Emha Ainun Nadjib)


Selasa, 22 April 2008, sekda_humas_dan_protokol
Pemkab Kembali Berikan Beasiswa

Tahun ini Pemkab Lamongan kembali berikan kuota sebanyak 250 beasiswa pada mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu. Beasiswa tersebut bukan hanya diberikan pada mahasiswa berprestasi di perguruan tinggi negeri (PTN) saja, namun juga diberikan pada mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kabupaten Lamongan. Menurut informasi Kepala Dinas P dan K Musthafa Nur melalui Kabag Humas dan Protokol Aris Wibawa, nilai nominal yang diberikanpun berbeda, untuk mahasiswa PTN diberikan tunjangan senilai Rp.4.000.000,- pertahunnya. Sementara untuk mahasiswa berprestasi yang kuliah di perguruan tinggi di Lamongan diberikan bantuan senilai Rp.2.000.000,- pertahunnya (21/4). Sedianya, lanjut Aris, pemberian beasiswa tersebut akan melalui beberapa persyaratan salah satunya yaitu mahasiswa harus tetap berprestasi. "Selain itu mahasiswa penerima beasiswa tersebut tidak boleh berhenti kuliah, hal tersebut akan dimonitor petugas dari dinas P dan K tersendiri, " ungkap Aris. Dalam kebijakan baru tahun 2008 ini Pemerintah Kabupaten Lamongan akan memberikan beasiswa bukan pada mahasiswa baru saja. Namun memberikan beasiswa pada mahasiswa diatas semester III yang telah melewati kuliahnya. Sampai saat ini Dinas P dan K masih mengumpulkan data dari mahasiswa calon penerima beasiswa tersebut. Selain itu mahasiswa yang telah mendaftar di tahun lalu dan tidak masuk kuota, akan diikutsertakan pada tahun ini. Lebih lanjut dikatakan Aris, pada tahun 2007 lalu saya Pemkab Lamongan juga telah memberikan beasiswa pada 190 orang mahasiswa berprestasi, dari keluarga tidak mampu yang diterima di PTN Jawa dan Bali. Sementara sebanyak 80 orang mahasiswa PTS yang berkuliah pada perguruan tinggi di Kabupaten Lamongan. " Program beasiswa ini diberikan Pemerintah Kabupaten Lamongan sebagai bukti keseriusan Pemkab pada dunia pendidikan dan demi mendukung menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Bukan hanya itu bahkan beberapa orang siswa SMU di Lamongan yang mendapatkan beasiswa dari Institut Sepuluh Nopember Surabaya, hanya saja program beasiswa tersebut tidak melalui Dinas P dan K melainkan ditangani lembaga pendidikan masing-masing, " Terangnya.
MBOK YA ANUMU ITU
JANGAN DIANUKAN KE ANUNYA ANU
Komunikasi itu gampang-gampang sulit, atau sulit-sulit gampang. Maksudnya, tampaknya gampang tapi ternyata sulit, tampaknya sulit tapi lha kok gampang. Itu tergantung macam-macam faktor: bahasa yang digunakan, situasi, dan konteks komunikasi, latar belakang komunikasi, latar belakang komunikator dan komunikan. Bahkan bergantung lebih banyak hal lagl: bergantung canthelan, senggot, dan lain sebagainya.
Markesot terkadang merasa dirinya adalah pakar komunikasi, di saat lain ternyata ia tolol setolol-tololnya dalam berkomunikasi.
Nabi Sulaiman bisa berkomunikasi dengan segala macam makhluk. Artinya beliau kenal betul hakikat gerak daun-daun, gelagat para jin, di arah mana semut mencium sesuatu, dan apa saja. Dengan kata lain Nabi Sulaiman itu ilmuwan komplet, beliau mengerti hakikat dan syariat segala macam makhluk. Sebagaimana para astronom paham watak dan perilaku bintang-bintang, para dokter hewan tahu sifat dan kelakuan binatang, para sosiolog mafhum apa saja yang 'diucapkan' oleh gerak masyarakat dan sejarah, para kiai, dan psikolog tahu persis 'bunyi suara', sorot mata Anda, atau kerut-merut kulit wajah Anda. Atau seorang dokter bisa berkomunikasi dengan penderitaan tubuh Anda cukup dengan menatap wajah, atau menyentuh kulit tangan atau kening Anda. Para ilmuwan itu kalau digabung jadi satu, lengkap dengan segala makrifat dan kekayaan harta-bendanya: akan menjadi Nabi Sulaiman minus kenabian resminya.
Tapi bagi orang-orang awam seperti Markesot, komunikasi itu bisa merupakan masalah yang ruwet. Markesot mungkin terbiasa berkomunikasi dengan pengemis atau gelandangan, tapi belum tentu ia bisa berdialog dengan seorang bupati, dengan ahli paranormal, juga pasti akan serba salah kalau berkomunikasi dengan wewe gombel, thok-thok kerot, atau seekor kambing.
Memang komunikasi itu kelihatannya sepele, tapi kalau gagal, bisa fatal akibatnya. Seorang penumpang kereta api yang bindheng suaranya bertanya kepada penumpang di sebelahnya: "Mas, jam berapa sekarang?"—Ia langsung diajak berkelahi oleh orang itu, karena ternyata ia juga bindheng.
Anda pasti sudah hapal anekdot itu. juga ketika seseorang yang berdiri berdesak-desakan di bus terinjak kakinya oleh seseorang di sebelahnya. Sebelum memprotes, ia merasa perlu dulu mengadakan penelitian terhadap aspek-aspek sosiologis historis dari orang yang hendak diajaknya berkomunikasi.
"Mas, Mas, saya boleh tanya?" ia bertanya sangat halus.
"Silakan...," jawab si penginjak dengan heran.
"Mas ini putranya perwira ABRI?"
"O, bukan, bukan..."
"Punya paman atau sedulur yang ABRI?"
"Ndak...ndak..."
"Punya tetangga atau kenalan seorang ABRI?"
Dan ketika orang itu menjawab 'tidak' juga, maka suara kawan kita itu mendadak agak keras: "Kalau begitu jangan injak kaki saya ! "
Pengenalan konteks, kerangka dialog, bahkan latar belakang sosiologis historis, sangat penting dalam komunikasi. Kalau tidak, seseorang bisa babak belur. Paling tidak, yang terjadi kemudian bukan dialog, melainkan monolog.
Dulu di masa muda Markesot, sebagai anak sulung ia banyak dibebani tanggung jawab oleh orangtuanya untuk mengurus adik-adiknya . Suatu hari sang Bapak memanggilnya dan berkata: "Sot, tolong si Anu itu dianu, mbok ya anunya itu jangan dianukan ke anunya anu!
"Ya, Pak," jawab Markesot, "nanti saya anunya si anu itu!"
Tapi kemudian ia terlupa. Sehingga beberapa hari kemudian ketika sang Bapak menegurnya. "Bagaimana Sot ? Si Anu sudah kamu anu atau belum?"
Tergagap Markesot menjawab—"Sudah Pak. Saya bilang: Anumu itu mbok ya jangan dianukan ke anunya anu... Dan tampaknya si Anu sudah benar-benar anu kok..."
"O, ya sudah kalau si Anu sudah anu...," sahut Bapaknya dengan perasaan puas.
Komunikasi sangat gampang. Tapi yang terjadi pada Markesot dengan bapaknya itu bukanlah komunikasi: mereka hidup dalam imajinya sendiri-sendiri. Masing-masing bermonolog.
Namun bisa juga hanya dengan mengandalkan 'anu'—komunikasi berlangsung, asal 'anu' di situ merupakan kesepakatan kode yang telah memiliki latar belakang konvensi antara komunikator dan komunikan. Jangankan 'anu': tanpa kata pun komunikasi bisa berlangsung. 'Kata'—bentukan ucapan—bahkan dikenal sebagai media komunikasi yang paling dangkal, meskipun justru karena itu ia malah praktis.
Ada banyak bahasa komunikasi yang lain: pandangan mata, mimik wajah, gerak, kode-kode, atau 'komunikasi sunyi'. Dalam metode-metode latihan teater ada dikenal verbal- communication, ada verbal communication, serta ada silent cornmunication. Ada komunikasi verbal, ada yang fisikal, serta yang sunyi. Dalam dimensi-dimensi kehidupan tertentu—tanyakan kepada pakar kasepuhan, kaum sufi, ahli kebatinan, orang yang bercinta, dan seterusnya—komunikasi paling efektif justru dengan menggunakan 'bahasa' diam. Kalau istri Anda purik, ngambeg, gak wawuh: ketahuilah bahwa ia justru sedang menggunakan bahasa yang paling efektif untuk menyatakan perasaannya kepada Anda. Kalau dengan kata-kata, malah perasaan itu tak sampai.
Dulu Markesot pernah bercerita tentang seorang temannya: dalam perjalanan bersama keliling kota-kota Filipina dalam rangka ikut mendukung Cory Aquino—ada seorang teman yang Bahasa Inggrisnya terbatas pada 'yes', 'no', 'what', atau "yes no what-what" (yo gak opo-opo). Tapi dialah yang paling berhasil komunikatif dengan penduduk desa-desa dan kampung-kampung, berkat kemampuannya menggunakan gerak tubuh, mimik muka, serta inisiatif-inisiatif komunikasi yang lain meskipun tak menggunakan kata-kata.
Di tengah pergaulan sehari-hari, ada teman yang bisa komunikatif di obrolan, tapi gagap di podium. Ada yang fasih di ruang ceramah, tapi glagepen dalam paugeran. Ada yang maha orator di panggung, tapi ndlahom di depan cewe. Ada yang pintarnya ngobrol dengan anak kecil, ada yang dengan orang 'bawah', ada yang bisa komunikasi nyogok uang untuk keperluan tertentu, pokoknya macam-macam.
Tapi yang paling inti dan substansial dalam peristiwa komunikasi sesungguhnya bukan 'bagaimana bahasa yang digunakan', melainkan apakah kedua belah pihak terbuka atau tidak untuk berkomunikasi. Kalau seseorang terbuka untuk berdialog, maka bahasa gampang dicari. Tapi kalau ia tertutup, maka pakai bahasa apa pun akan salah kedaden.
Ketertutupan komunikasi dalam masyarakat kita biasanya disebabkan oleh penyakit-penyakit seperti feodalisme, hirarkisme, atau segala macam posisi perhubungan sosial yang mendorong sikap apriori.
Contoh feodalisme komunikasi misalnya ketika seorang bapak hanya sanggup untuk 'mengomongi' dan tak sanggup 'diomongi'. Kalau dia mengomongi, segalanya 'betul'. Kalau dia 'diomongi', segalanya 'salah'.
Juga dalam kondisi hirarkisme tata sosial misalnya yang terjadi di tubuh birokrasi, atau bahkan ketika 'rasa birokrasi' melebar keluar konteks formal birokrasi itu sendiri. Seorang atasan tak bisa diomongi, ia hanya punya 'kewajiban' untuk mengomongi. Kondisi seperti itu membuat orang menjadi antikritik, tak bisa mendengarkan apa pun yang dia anggap mengkritiknya atau menyalahkannya. Saking tak biasanya mendengarkan, bahkan terkadang ia tak tahu bahwa sesungguhnya ia dipuji. Ia terbiasa memerintah, terbiasa 'berkuasa' dan 'paling benar', sehingga kalimat pujian ia takutkan sebagai perongrong kekuasaan dan kebenaran dia. Bandingkan dengan tokoh besar kita Dr. Soedjatmoko yang barusan dipanggil Allah: ketika beliau menjadi Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat, beliau selalu meminta saran dan kritik dari stafnya sebelum tampil berbicara atau berpidato.
Tapi jangan salah paham. Kalau Markesot bilang soal feodalisme dan hirarkisme, sehingga lantas Anda ingat 'mental kepegawaian' atau birokrat: itu tidak lantas berarti semua birokrat atau pegawai itu punya penyakit seperti itu. Sangat banyak birokrat dan aparat negara yang wajib kita acungi jempol.
Markesot paling takut terjadi miskomunikasi. Mentang-mentang dia bilang penyakit feodalisme dan hirarkisme, lantas sebagai birokrat Anda tersinggung dan merasa Anda yang dituding. Bedakan dong antara pemahaman konteks global dengan kasuskasus formal lokal.
Kata orang-orang pintar, komunikasi itu mesti rasional dan kontekstual, juga obyektif. Kalau subyektif, apa pun saja yang Markesot katakan akan dianggap salah. Kalau konteks komunikasi kita misalnya adalah "sepak bola profesional", itu tidak harus inklusif 'Asyabaab'. Dalam konteks itu bisa kita sebut van Basten atau Heguita, dan bisa sama sekali tak ada urusan dengan Asyabaab.
Mungkin karena pusing oleh beberapa kasus diskomunikasi, akhir-akhir ini Markesot sering nglindur dan sambat: "Owalah! mbok ya kalau anu itu dilihat dulu anunya, supaya ndak salah anu.. !"[]
"P" ELU KAYAK "M" GUA...!

Markesot bercerita tentang seorang Direktur Perusahaan yang naik pitam kepada saingan dagangnya. Musuhnya itu, seorang Direktur Perusahaan juga, dianggap melakukan kompetisi yang tidak fair.
Maka pagi itu sebelum ke kantor ia menyuruh sopirnya untuk langsung melajukan mobil menuju kantor sang musuh. Wajahnya cemberut sepanjang jalan. Terkadang keluar satu-dua kata makian yang keluar tanpa sengaja. Si supir ngeri juga. Apalagi air muka si Bos makin lama makin berwarna kemerah-merahan seperti orang kebelet buang air besar pas tengah-tengah rapat partai.
Begitu tiba di kantor musuh, si Bos langsung turun mobil dan tanpa babibu langsung masuk. Satpam di pos penjagaan depan kebingungan. Mau menahan atau membentak tidak berani, soalnya si Bos pakaiannya bagus, pakai dasi segala, dan sepatunya mengkilat.
Sebentar kemudian terdengar suara-suara dari dalam bagaikan teater Shakespeare, Bengkel Rendra, atau setidaknya Sakerah. Bahkan terdengar pula meja dipukul-pukul.
Sesaat kemudian pintu kantor mendadak dibuka dengan kasar. Si Bos keluar dengan wajah merah legam dan mata melotot seperti sogok telik. Berjalan agak miring karena kepalanya masih menghadap ke arah si musuh. Sambil menuding-nudingkan tangan, si Bos memaki: "Pantat Lu kayak muka Gua!"...
Kemudian tergopoh-gopoh sopirnya membukakan pintu mobil si Bos masuk, duduk menghempaskan tubuhnya sambil menarik napas lega. Tapi sebelum berangkat, sang supir memberanikan diri mengemukakan sesuatu.
"Maaf ya Pak Bos...," ujarnya terbata-bata.
"Apa!" bentak si Bos.
"Maaf, sekali lagi maaf... tapi kalimat makian Pak Bos tadi itu apa tidak terbalik...?"
Betapa kagetnya si Bos. "O ya.. Terbalik ya?"
Mendadak ia buka pintu mobil, turun, dan kembali menuding-nuding wajah musuhnya sambil mengulang makian: "Muka Gua kayak pantat Lu!"...
Lemaslah sang supir. Makian yang pertama terbalik, kemudian Pak Bos telah berusaha membaliknya kembali, dan begitulah hasilnya. Hampir saja terlontar dari mulutnya kata-kata untuk mengingatkan Pak Bos bahwa bukan begitu caranya membalik kalimat. Tapi setelah diliriknya si Bos sudah duduk dengan wajah lega, ia urungkan niatnya itu.
"Biarlah Pak Bos pulang dengan puas dan lega...," bisiknya kepada dirinya sendiri.
"Sekarang ini kebanyakan manusia memang merasakan kepuasan dan kelegaan dengan sesuatu yang sesungguhnya terbalik-balik," kata Markesot selanjutnya, memberi ular-ular atas kisahnya sendiri, "Dan sering kita akhirnya tidak tega atau tidak lagi punya jalan untuk mengingatkan. Karena kalau kemudian mereka tahu bahwa itu terbalik-balik, jangan-jangan mereka nanti malah jadi stres.'Kan kasihan. Mbok biar saja".
"Maksud Cak Sot, terbalik-balik bagaimana?" bertanya salah seorang yang mendengarkan.
"Wah, terlalu banyak contohnya," jawab Markesot.
"Coba tho," ia memberi contoh, "Misalnya saja yang semestinya berwenang menilai seseorang berkelakuan baik atau tidak itu 'kan kiai, ulama, pastor, ruhaniwan, atau kaum moralis lainnya. Merekalah institusi akhlaqul karimah. Lha sekarang malah mereka-mereka itu yang harus punya Surat Berkelakuan baik yang ditetapkan oleh lembaga yang entah apa hubungannya dengan kelakuan baik.
"Contoh lain, harga bintang film pamer paha dan susu lebih mahal dari Zainuddin M.Z. Banyak orang korupsi malah dianggap paling berjasa kepada negara. Rakyat dianggap sebagai bawahan yang paling rendah, padahal merekalah pemilik kedaulatan tertinggi. Merekalah yang menggaji kepala negara, gubernur, bupati, dan semua birokrat lain. Jadi rakyat itu Bos. Tapi ya itu tadi: Kalau rakyat coba marah, malah kata-katanya terbalik: 'Pantat Lu kayak muka Gua!'..."
Kembali ke Index

MATI KETAWA GAYA GUS DUR
Kalau ada panitia dan sponsor yang berminat, pada suatu hari Markesot ingin tampil dalam pertandingan melawak melawan Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
"Sama-sama binatang pemakan nasi, apa yang saya takutkan pada cucu K.H. Hasyim Asy'ary," tantang Markesot, ''Bahkan saya berani melahap godhong kates mentah-mentah, berani makan silet, beling, atau kalau perlu gado-gado campur paku..."
"Gus Dur juga berani!" Markenyut memotong, "Wong makan ulama saja dia berani kok!"
"Husss!!!" bentak Markesot, "Jangan nglantur. Gus Dur memang saya jarnin tak berani makan beling, soalnya ndak mungkin ketua Tanfidziyah NU berlaku seperti Jaran Kepang. Gus Dur juga pasti kalah lomba lawak sama saya, karena sebagai tokoh nasional dia tak bisa menuturkan lawakan-lawakan yang ndlodog atau saru. Kalau saya 'kan bebas. Wong saya cuma kepala gerombolan mbambung...!"
Tetapi bagi Markesot, Gus Dur memang adalah kolega atau relasinya. Bukan di bidang politik atau keagamaan. Melainkan dalam sektor perlawakan.
Kalau mereka bertemu, tak ada lain yang terjadi kecuali berlomba melawak. Saling memamerkan kulakon-kulakon terbarunya. Seluruh dunia dan kehidupan ini, bagi Gus Dur dan Markesot tidaklah punya fungsi apa-apa kecuali sekadar sebagai bahan berkelakar. Masalah politik, kekuasaan, diktator, militer, birokrasi, korupsi, ulama, kiai, organisasi sosial, konglomerat,atau apa pun saja hanyalah suku cadang lawakan di antara mereka.
Tak pernah ada ceritanya, tak pernah ada kamusnya, bahwa pertemuan antara Gus Dur dengan Markesot adalah perjumpaan yang serius. Segala-galanya hanya lawakan dan kelakar. Hidup sangat melelahkan, sehingga setiap orang perlu metode untuk melawakkannya. Manusia sangat naif dan dungu, sehingga kita harus pandai-pandai menertawakannya. Sejarah sangat menggelikan, sehingga siapa saja yang mesti terampil meludrukkannya. Peradaban umat manusia sangat merupakan komedi, sehingga tolollah siapa saja yang terlalu "mengambil hati" untuk terlampau memprihatinkannya.
Ketika kuliah di Kairo, Gus Dur suka memlonco pendatangpendatang baru dari tanah air. Partnernya dalam panitia perploncoan biasanya adalah K.H. Mustofa Bisri dari Rembang yang kini terkenal sebagai kiai-penyair.
Pada suatu hari K.H. Syukri Zarkasyi yang ketika itu pasti belum Kiai Haji dan menurut Gus Dur "pekerjaannya di Kairo hanya main band tapi pulang-pulang jadi kiai"—bertamu ke tempat kos Gus Dur dan Gus Mus(tofa). Tentu saja disambut dengan penuh keramahtamahan. Dipersilakan duduk, saling menanyakan keselamatan, di-godog-kan air untuk membuat minuman teh dan seterusnya.
Hanya saja karena namanya saja tempat kos: Jadi kamar, dapur, dan ruang belajar ya jadi satu. Maka Gus Syukri melihat segala yang dilakukan oleh tuan rumahnya. Gus Mus mempersiapkan cangkir dan lepek sambil bertanya kepada Gus Dur, "Di mana lapnya tadi?"
Gus Dur berjalan ke sisi almari, mengambil "lap" yang ternyata adalah celana dalam alias kancut. Memberikannya kepada Gus Mus dan diterima dengan wajah dingin, kemudian langsung dipakai untuk ngelap cangkir sambil mengobrol dengan Gus Syukri.
Merah-padamlah wajah calon kiai Gontor ini, sekaligus pucat-pasi. Ketika teh sudah tersuguhkan, mau tak mau ia meminumnya, meskipun perasaan dan lidahnya bercampur-aduk.
Sekian lama kemudian baru mereka bertiga tertawa cekakakan. "Cangkir untuk kiai Rembang yang mungkin masih keturunan Sunan Kudus, harus dilap dengan kain istimewa yang paling bersih, di antara kain-kain yang ada. Dan cawet itu betul-betul gress dari toko, belum pernah dipakai sebagai cawet, sehingga belum bisa disebut cawet," kata Gus Dur.
Tak jelas apakah kemudian Gus Syukri di tempat kosnya menyuguhi Gus Dur dengan tongseng sandal atau gule yang bumbunya diuleg dengan menginjak-injakkan sepatu. Tapi jangan lupa Gus Dur pulalah yang "mengajari" Gus Syukri nonton film dan acara-acara kesenian sehingga beliau mengenal kebudayaan dan menjadi berbudaya.[]
Senin, 15 Januari 2007, dinas_pendidikan_dan_kebudayaan
Pemkab Lamongan Siapkan Dana 1 M Untuk Beasiswa Mahasiswa Tidak Mampu

Pada tahun ini Pemkab Lamongan menyiapkan anggaran Rp 1 milyar untuk beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga tidak mampu, anggaran tersebut disiapkan untuk 250 mahasiswa, setiap mahasiswa akan diberi dana sebesar Rp 4 juta pertahun.
Dengan dana sejumlah itu diharapkan biaya SPP, sumbangan pembangunan, biaya praktikum, biaya hidup (indekos) dan biaya lain penunjang pendidikan. Beasiswa tersebut diberikan selama setahun, tetapi bisa diperpanjang hingga 2 tahun untuk mahasiswa D-III dan Politeknik, sedangkan yang S-1 bisa sampai 3 tahun.
Untuk tahun ini beasiswa tersebut akan diberikan kepada Mahasiswa tidak mampu asal Lamongan yang masuk dalam perguruan tinggi negeri (PTN) di Jawa Timur. Dan beasiswa tersebut bersifat social tanpa ikatan dan tidak ada kaitannya ndengan rekruitmen CPNS. Beasiswa tersebut akan disalurkan ke rekening masing-masing mahasiswa yang bersangkutan.
Ketentuan soal beasiswa tersebut diatur dalam peraturan bupati Lamongan nomor 15A/2006. syarat mahasiswa yang menerima beasiswa yaitu; putra asli Lamongan, dari keluarga kurang mampu yang dibuktikan surat keterangan dari desa, berprestasi, berkelakuan baik, dan sanggup menyelesaikan kuliah tepat waktu dan lolos seleksi yang diadakan. Sebenarnya program serupa telah dilakukan tahun kemarin, namun anggaran yang disediakan jumlahnya
Kita Bukan Bangsa Pemalas
Emha Ainun Nadjib Seperti ditulis di Suara Merdeka
ORANG yang gumunan sering mengatakan, satu orang Jepang kualitas dan tenaganya sama dengan 5 orang Indonesia. Sementara satu orang Korea sama dengan 3 orang Jepang. Jadi 15 orang Indonesia baru bisa menandingi satu orang Korea. Yang dibandingkan adalah stamina dan etos kerjanya, keuletan dan kerajinannya, kadar profesionalitas dan manajerialnya.
Tentu itu berangkat dari kenyataan industri dan perekonomian Korea yang semakin menguasai dunia. Padahal negaranya kecil, tak punya kekayaan alam, laki-lakinya jarang yang ganteng dan perempuannya tak ada yang mampu menandingi kecantikan artis-artis kita.
Memang sesudah sampai awal tahun 80-an Korsel kacau kepribadian kebangsaannya, sesudah ditandangi oleh pemerintahan militer yang bersikap sangat memacu kerja keras rakyatnya, yang menempelengi koruptor dan para pemalas. Akhirnya bangkitlah bangsa Korea, dan sekarang langit bumi mengaguminya.
Tetapi kalau kesimpulan itu mengandung tuduhan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemalas, sangat suka mencuri, tak mau jalan kecuali jalan pintas, main bola sambil duduk tapi ingin menang 5-0 dan kalau kemasukan gol marah-marah - itu salah besar!
Bangsa Indonesia bukan bangsa pemalas. Kita adalah bangsa yang memang tidak perlu rajin, tidak membutuhkan keuletan, tidak mau ngoyo, cukup ikut sidang-sidang kemudian bisa bikin supermarket, dll. Kita bangsa yang kaya raya sejak dari sononya, sehingga cukup mengisi kehidupan dengan joget dan tidur saja, tidak perlu repot-repot seperti bangsa-bangsa lain. Sedemikian adil makmur aman sejahteranya negara kita, sehingga kita tidak membutuhkan pemerintahan yang baik.
Demi membantah pendapat di atas, saya nekat terbang ke Korea. Mohon maaf minggu kemarin saya absen menulis karena itu. Tapi karena di negeri ginseng itu saya tidak tahu jalan, maka 12 hari baru bisa pulang kembali ke tanah air. Apalagi orang Korea sangat benci kepada Amerika Serikat, sehingga mereka sangat gengsi untuk memakai bahasa Inggris. Jadi semua informasi, petunjuk-petunjuk di jalan dan di mana saja hampir 99% memakai bahasa dan tulisan Korea.
Dulu mereka benci Jepang karena sebagaimana kita Indonesia, mereka juga dijajah Jepang, rakyatnya diperbudak, kerajaannya dibakar habis - sampai akhirnya di kemudian hari mereka mengimpor kayu dari Kalimantan untuk bikin bangunan kraton yang dimirip-miripkan dengan aslinya.
Korea merdeka dari Jepang dua hari sebelum kita, yakni 15 Agustus 1945. Sekarang di zaman modern mereka punya sasaran kebencian yang lebih besar, yaitu Amerika Serikat - meskipun tentu saja hati rakyat mereka tidak tercermin oleh sikap pemerintah mereka. Namanya juga pemerintah, tentu agak aneh kalau sepak terjangnya mirip dengan kelakuan rakyatnya.
Saya jadi enthung thilang-thileng di Encheon, Seoul, Busan, sampai ke pinggiran Suwon, Ansan dll. Mana gedung-gedungnya tinggi-tinggi amat. Belum lagi kereta bawah tanahnya silang sengkarut berlapis-lapis mengiris-iris bertingkat-tingkat ke bawah permukaan bumi. Keluar dari subway saja saya pasti bingung, apalagi setiap subway di bawah tanah itu ada lapisan-lapisan pasar yang masing-masing se-kecamatan luasnya. Huruf latin tak ada 5% jumlahnya.
Lebih celaka lagi karena kebanyakan orang Korea tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara kemampuan bahasa saya juga sangat awam. Kalau ke Mesir, Arab, Jordan, Syria atau Israel, saya selalu mengaku kepada orang-orang di sana bahwa saya lebih mampu berbahasa Inggris dibanding bahasa Arab.
Sementara kalau saya ke London, Ann Arbor, atau ke Perth, saya selalu memamerkan bahwa memang bahasa Inggris saya sangat buruk - tapi kan bahasa Arab saya sangat OK.
Padahal orang Korea sangat jarang tidur. Jam 11 malam saya ketemu anak-anak SMP pulang sekolah. Jam 1 dinihari mahasiswa-mahasiswi pulang kuliah. Mulai jam 2 pagi Pasar Dong Daimun, Nam Daimun atau mall Doota justru sedang ramai-ramainya. Karena kita negara sejahtera maka Jakarta macet sore-sore kita sudah cemas, padahal di Seoul jam 3 pagi di sana - sini traffic jam.
Begitu banyak orang, tapi saya tak bisa omong apa-apa. Ada satu dua kata Korea saya tahu, tapi hilang maknanya karena setiap kata ditambah “see” atau “ee”. Sampai akhirnya saya ngedumel sendiri dan menyanyikan lagu Indonesia berjudul “Asek”. Bunyinya: “Asekuntum mawar meraaah, o o o….”
Alhasil saya kebingungan. Tak tahu utara selatan. Karena di luar Indonesia orang ngertinya kanan kiri depan belakang atas bawah. Barat timur sudah lenyap. Karena Tuhan sendiri berfirman bahwa la syarqiyyah wa la ghorbiyyah.. Tak timur, tak barat.
Untung saya ditolong oleh seorang direktur utama sebuah perusahaan pembuat alat-alat Security System dan software komputer, terutama Internet Multimedia Phone.
Sebagai orang udik saya terbengong-bengong di tepi jalan, sampai akhirnya dihampiri oleh beliaunya itu. Seorang Sajang, alias juragan perusahaan besar - meskipun tak sebesar Samsung, SK, LG atau Honde (Hyundai) - yang barusan pimpinannya bunuh diri terjun dari gedung tinggi gara-gara rahasia keuangan ekstra perusahaannya yang terkait dengan Korea Utara.
Tapi Pak Sajang ini kelakuannya sungguh aneh. Saya didatangi, dikasih rokok, diajak makan, bahkan dia membawa wajan sendiri untuk keperluan penggorengan makan kami. Saya dikursus bagaimana menggunakan sumpit. Kemudian beliau mengajak saya keliling melihat-lihat kantor-kantor dan pabriknya. Saya dibikin terkagum-kagum dipameri kunci atau gembok pintu yang detektor pembukanya menggunakan sidik jari. Kalau sidik jari kita belum terdaftar, nggak bisa buka pintu. Kemudian bahkan ada gembok yang berdasarkan sinar mata kita. Meskipun nama saya Ainun, artinya mata - tetap saja pintu itu tak bergeming meskipun saya pelototi habis-habisan sampai mengerahkan ilmu kebatinan Kaliwungu, Banten, Tulungagung dll.
Mohon maaf ruangan untuk tulisan ini sudah habis. Minggu depan saya sambung dari Malaysia, karena Pak Sajang itu menyuruh saya ke KL tgl 17 lusa. (18)
Nabi, Laut, Api, dan Jeruji Besi

Tiap hari berulangkali setiap muslim berdoa kepada Tuhan-nya, memohon perlindungan agar tidak sesat. Kata akhir surat Al-Fatihah adalah wala ad-dhoolliin: "Anugerahilah kami jalan mustaqim (jalannya orang yang menegakkan kebenaran), bukan jalan orang-orang yang Kau murkai, juga bukan jalan orang-orang yang sesat...."

Kalimat itu disiapkan Tuhan seakan-akan untuk menegaskan bahwa kehidupan manusia sepanjang masa selalu berada pada dinamika relativitas antara tersesat dan tidak tersesat. Kalau begitu engkau baca syahadat dan menjalankan syariat mahdloh (syahadat, salat, puasa, zakat, haji) engkau terjamin tak sesat -tentulah tak perlu Allah mem-fait a compli dengan kalimat doa akhir Al-Fatihah itu.

Antara benar dengan sesat itu seakan sangat mungkin berlangsung bergantian dalam kehidupan manusia. Tak hanya seperti pergiliran siang dan malam, panas dan dingin, penghujan dan kemarau, gelap dan terang: mungkin lebih cepat dari itu.

Pada suatu siang selepas Jumatan belum kering air wudu di wajah kita, bisa saja di beranda masjid kita menemui klien dan bertanya: "Beraninya berapa persen? Kalau di bawah 30% bisa sulit kita mendapatkan tanda tangan beliau."

Kemudian lewatlah yang disebut "beliau" itu, dengan sajadah di pundaknya, sesudah beliau pakai untuk berkotbah dan menjadi imam salat Jumat.

Kesesatan itu milik kita sehari-hari. Kesesatan adalah perangai umum dan sudah saling tahu satu sama lain. Hanya saja, di antara sesama orang sesat dilarang saling mengganggu.

Ada kesesatan kesehatan, dan itu menghasilkan berbagai sakit massal dan penambahan jenis penyakit. Ada kesesatan moral yang mendarah daging, bahkan sudah hampir menjadi jiwa dan karakter kita bersama. Korupsi, misalnya, yang kita tidak rela kalau hanya sesama manusia yang melakukan korupsi --sistem dan aturan pun harus kita bikin terlibat dan "menanggung" dosa korupsi.

Indonesia, negara besar, tanah suburnya kaya raya. Rakyatnya tangguh, penuh bakat, dan penyabar, semakin terperosok ke jurang kehancuran sesudah sekian kali ganti pemerintahan. Demi Allah, itu adalah kesesatan agung yang sangat nyata.

Ada juga misalnya, kesesatan ilmu dan wacana, merajalela di setiap kepala manusia. Tetapi sampai kiamat tak akan ada satu pihak pun yang rela beriktikad mencari titik temu. Tak ada mediasi atau tawassuth, atau tawazzun, penyeimbangan sosial di antara berbagai-bagai produk kemerdekaan berpikir.

Masing-masing orang atau golongan yakin sedang menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Dan yang dimaksud kebenaran itu adalah apa yang berlaku di kepalanya sendiri. Di dalam tradisi peradaban ilmu, sangat sukar menemukan orang mencari kebenaran. Umumnya mereka sudah sampai di titik final dengan kebenaran dan keyakinan subjektifnya atas kebenaran diri itu.

Sesungguhnya tradisi itu tak menerbitkan tingkat masalah serius, andaikan tidak ada "penyambung lidah ilmu" di bidang-bidang formal: negara, pemerintahan, policy. Kemudian otoritas, otoritarianisme, bedil, penangkapan, dan pemberangusan. Finalnya ilmu itu bunyinya "pokoknya".

Yang pendekar-pendekar yang bersenjatakan "pokoknya" itu sekarang bukan hanya penguasa, juga sudah menjadi kepintaran rakyat banyak. Akhirnya, yang terjadi adalah siapa menembakkan peluru fatwa dan siapa yang terkena olehnya. Alhasil, sebenarnya Al-Qiyadah dulu semestinya melangkahkan kaki ke kekuasaan negara dulu, baru terapkan teologinya.

*****

Sesudah MUI berfatwa bahwa Al-Qiyadah adalah aliran sesat, dengan penuh penasaran saya menanti-nanti Al-Qiyadah juga segera mengumumkan bahwa MUI dan semua umat Islam yang bukan Al-Qiyadah adalah juga aliran sesat. Bahkan gelombang sesat, gelombang besar sedunia, bukan sekadar satu aliran kecil di beberapa lokal.

Karena sebelum muncul wacana bahwa Al-Qiyadah adalah aliran sesat, sebenarnya pasti sudah ada terlebih dahulu wacana bahwa semua umat Islam di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia, adalah juga sesat. Pasti demikian menurut Al-Qiyadah.

Pastilah pada alam tafsir Syekh Mushaddeq beserta para pengikutnya terdapat keyakinan bahwa semua yang bukan Al-Qiyadah adalah sesat. Itulah sebabnya mereka menghimpun diri dalam kebenaran yang tidak sesat, menurut versi mereka. Mereka tidak mau terus tersesat, maka mereka menjadi Ummatul Qiyadah.

Hanya saja Al-Qiyadah itu "swasta". Sementara MUI itu "negara". Aslinya "negara" adalah rumah institusi rakyat, milik rakyat. Tetapi pemerintah sendiri tidak pernah mampu membedakan bahwa pemerintah bukanlah "negara". MUI memperoleh legalitas dan legitimasi konstitusional "kenegaraan" untuk berfatwa.

Dan fatwa MUI itu tidak sekadar berkekuatan moral sebagaimana Al-Mufti di Mesir, juga berkekuatan hukum dan diperkuat oleh otoritas politik. NKRI adalah sebuah konvensi tentang segala perikehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Segala interpretasi, versi, penafsiran, dan aplikasi yang menyangkut sisi apa pun berada di genggaman tangan penguasa, meskipun sudah lama memakai kostum demokrasi, pemilihan umum, dan perwakilan rakyat.

Indonesia adalah Pemerintah Indonesia: "negara" tidak berposisi jelas dalam pemetaan pikiran konstitusi dan logika kenegaraan kita. Kalau "negara" tidak jelas, terlebih lagi "rakyat". Sesungguhnya yang selama ini dimaksud "negara" adalah pemerintah. Indonesia adalah suatu wilayah di muka bumi yang "belum tentu negara", yang pemerintahnya lemah, dan rakyatnya "abstain", alias de jure de facto tidak benar-benar ada.

Kalau rakyat mau sedikit ada, bergabunglah sejenak menjadi "penggembira" pelaku pemerintah, misalnya lima tahun sekali dalam pemilu nasional atau pilkada. Rakyat jangan "mengada" di luar arus kepentingan dan wacana mainstream pemerintah. Kecuali engkau kuat atau licin atau invisible. Kalau tidak, engkau harus ditiadakan.

Demikian pula Al-Qiyadah. Sebenarnya, kalau MUI dan pemerintah tidak malas, banyak sekali "Al-Qiyadah-Al-Qiyadah" lain yang bertebaran di mana-mana. Artinya "negara" alias pemerintah bisa melakukan penangkapan massal, pemusnahan, dan peniadaan.

Ada "Al-Qiyadah" yang lugu sebagaimana Al-Qiyadah. Ada yang pintar: tidak bermain di wilayah teologi. Tetapi, ia mengapitalisasikan kekosongan kepala manusia Indonesia dengan formula-formula modern dan bahasa canggih. Serta menghindarkan kata-kata Arab yang menyangkut akidah.

Ayat dan hadits terbatas dipakai sebagai sobekan-sobekan kostum di wilayah spiritual, psikologi, dan psikisme, krisis logika, dan hati kosong. Juga sirnanya parameter-parameter nilai, perasaan cemas tak berkesudahan, rasa bersalah oleh korupsi. Serta hampir menyeluruhnya bangsa ini kehilangan pegangan hidup.

Asalkan engkau tidak bermain di wilayah teologi, maka bukan hanya lancar kapitalismemu. Malahan bisa merdeka menggunakan semua perangkat industri dan modal. Bahkan dipuji orang. Kalau lebih halus dan canggih lagi, malah bisa memperoleh Award Nasional atau kalau perlu Hadiah Nobel.

Di Nusantara ini manusia tidak benar-benar mampu membedakan Tuhan dengan setan, malaikat dengan Dajjal, kebaikan dengan jebakan, kebenaran dengan tipu daya. Agama dengan seakan-akan agama, ilmu dengan klenik, Kiai atau penipu, ustad atau saudagar, perjuangan dengan kebencian, fakta lapangan dengan nafsu kepahlawanan. Bahkan tidak maksimal kesanggupannya memilih sehat-tidaknya makanan, lagu, sinetron, kalimat, dan kata.... Asal ada kata "Allah" disangka agama.

*****

Andaikan munculnya Al-Qiyadah ini kita daya gunakan sebagai momentum pembelajaran. Misalnya, MUI menyiapkan forum untuk berdialog dan berdebat dengan Al-Qiyadah. Mungkin tertutup tak apa, kalau kita masih hobi sama mitos "meresahkan masyarakat". Tapi kalau akidah dan ilmu kita jelas, sebaiknya rakyat atau ummat juga kita ajak memperjelas akidah dan ilmunya: maka kenapa tak terbuka saja untuk umum perdebatan itu.

Saya yakin, itu bisa disiarkan secara nasional. Bisa menjadi sekian tayangan televisi yang laris, bukan tidak menarik untuk disponsori oleh ini itu --agar bukan Mbah Maridjan saja yang rosa, umat juga rosa akidah dan ilmunya.

Lebih dahsyat dan indah lagi, kalau sejak awal pimpinan Al-Qiyadah yang datang ke MUI mengusulkan ada forum. Dia pasti paham setiap kata ada risiko sosial, bahkan akibat politiknya. Mending terlebih dulu dibawa berdebat saja ke kantor MUI. Apa keberatan beliau untuk melakukan itu, karena toh beliau yakin bahwa beliau nabi. Mosok nabi kalah sama MUI.

Sesungguhnya, menjadi muslim, atau menjadi manusia, itu tinggal pilih satu di antara tiga jalan. Pertama, ijtihad, subjeknya bernama mujtahid: berinisiatif sendiri untuk memahami sesuatu, memikirkan, merenenungkan, menganalisis, dan mengambil keputusan. Kedua, ittiba', pelakunya bernama muttabi': mengikuti saja apa kata ulama, pemimpin, atau panutan, namun tetap dengan berusaha memahami apa yang ia ikuti.

Atau ketiga, taqlid, orangnya disebut muqallid: pokoknya ikut saja, mau kapan Idul Fitri-nya monggo saja, tak penting mengerti atau tidak, toh nanti yang urusan sama Tuhan kan yang dianut, bukan yang menganut.

Tapi salah seorang ulama MUI menyatakan: "Tidak perlu berdebat dengan orang sesat." Dan yang terjadi adalah semua pihak mendengar penggalan-penggalan dan serpihan-serpihan belaka. Jangankan barang baru yang bernama Al-Qiyadah, lha wong barang lama yang namanya Islam saja juga kita ngerti-nya sepenggal-sepenggal. Sehingga sangat mudah diperdaya, bahasa Jawa-nya: methel, seperti gethuk, ditiup saja bisa ambyar.

Begitulah ilmu kita, pengetahuan kita, wacana kita. Mungkin juga begitulah iman dan taqwa kita. Tapi sudahlah. Harus saya penggal di sini. Apakah engkau cemas atas Indonesia? Silakan.

Tapi, jangan cemas tentang Al-Qiyadah. Beliau yakin dirinya adalah nabi: siapa yang mampu menghalangi langkahnya? Nabi Ibrahim tak terbakar oleh api. Nabi Musa dibekali tongkat oleh Tuhan untuk membelah samudra. Kalau sekadar jeruji besi, apalah artinya bagi mukjizat seorang Nabi.

Emha Ainun Nadjib
Budayawan
[Kolom, Gatra Nomor 52 Beredar Kamis, 8 November 2007]
Sunday, May 4, 2003
Pantat Inul Adalah Wajah Kita Semua
Posted by Herry @ 21:03 | in Artikel, Kolom | e-mail this article | + to del.icio.us
Bukan tulisan saya, jelas. Ini tulisan Emha Ainun Najib. Tulisan beliau yang ini sangat saya sukai. Saya kutip dari harian Kompas di sini.
: : : : : : : :
DI wilayah kerajaan dangdut, Inul adalah warganya sang Raja Dangdut, atau mungkin lebih intim kalau kita sebut anaknya Rhoma Irama. Ia berada dalam asuhan, ayoman, dan perlindungan bapaknya. Kalau si anak benar, bapak men-support-nya. Kalau anak salah, bapak mengingatkannya. Kalau anak jaya, bapak bergembira. Kalau anak terpuruk, bapak menolongnya.
Apalagi ternyata anak-anak lain sebenarnya juga melakukan hal yang sama dengan Inul. Penyanyi-penyanyi dangdut yang lain, baik yang tampil di televisi, dan apalagi yang di luar itu-sejak Inul terkenal, setengah mati mencari pola-pola joget yang diperkirakan bisa bersaing melawan Inul, yang produknya sama sekali tidak kalah sensual dibanding Inul.
Kosmos dangdut berguncang oleh kehadiran Inul. Konstelasi pentas dangdut berubah total oleh adanya Inul. Inul menjadi bintang gemintang dan yang lainnya menjadi figuran. Keindahan musikalitas dangdut menjadi sekunder karena yang primer adalah fenomena budaya ngebor yang dilansir oleh Inul. Ngebor menantang lahirnya ngecor, ngezor, ngelor, ngedor… atau apa pun.

“Ngebor” adalah “avant-garde” budaya dangdut
Sesungguhnya apa yang dilakukan Inul adalah angka 9 dari 1,2,3… 6,7,8 yang sebelumnya secara bertahap dicapai oleh dinamika musik dan budaya dangdut. Joget ngebor Inul adalah garda depan dari perkembangan panjang budaya joget dangdut. Ia bukan anak jadah. Ia anak yang normal, relevan, dan bahkan setia serta kreatif terhadap aspirasi budaya joget dangdut. Kalau Anda perhatikan atmosfer pentas dangdut, orang yang cerdas bahkan berani memastikan bahwa yang semacam Inul itu akan pasti lahir, lambat atau cepat.
Tidak ada yang aneh dengan Inul karena budaya joget yang berkembang dalam kultur dangdut memang sangat akomodatif terhadap jenis kultur semacam ini. Dan, mohon maaf, Pak Haji sejak awal kebangkitan dangdut memang tidak antisipatif terhadap fenomena ini. Pak Haji secara tidak sengaja ikut memupuknya sehingga mengherankan kalau seakan-akan sesudah hadirnya Inul beliau baru tahu tentang budaya goyang aurat dalam pentas dangdut. Sudah lama Pak Haji terlibat dalam atmosfer goyang semacam itu dan tidak tampak merasa risi olehnya.
Awal tahun 1980-an saya pernah menulis tentang pentas dangdut yang diawali dengan tuturan ayat Quran atau hadis Nabi kemudian musik berbunyi dan penyanyinya menggoyang aurat, depan maupun belakang. Inul bahkan hanya mengolah aurat belakang, tidak terlalu membuat kaum lelaki pingsan sebagaimana kalau yang digoyang adalah bagian depan-yang biasanya dikomposisikan dengan mikrofon yang disodorkan tepat di depan kemaluan si penyanyi.
Sejak puluhan tahun lalu masyarakat terheran-heran oleh paradoks antara syair dakwah dangdut dengan praktik budaya joget dangdut. Pak Haji seakan-akan baru hari ini menjumpai fenomena itu. Dan, para pejoget dangdut yang lain seakan-akan suci dari tradisi budaya joget Inul.
Rekapitulasi nilai budaya dangdut
Maka, yang saya bayangkan adalah sang Raja atau si bapak dangdut memanggil anak garda depan itu. Ia panggil juga semua anaknya yang lain. Mungkin dinasihatinya, atau diajak berdiskusi, berunding, bersama-sama memproses dialog menuju keputusan bersama yang mewakili citra seluruh keluarga-kalau memang semua memandang bahwa atmosfer dunia dangdut harus mengalami perubahan. Katakanlah mereka berpendapat bahwa perlu ada semacam rekapitulasi nilai budaya dangdut.
Kalau ternyata si anak bersikap egois, tidak bisa melakukan moderasi atau persuasi sama sekali, maka bapak dan seluruh keluarga tidak punya kemungkinan lain kecuali bersikap memisahkan diri dari si anak.
Saya tidak berada di Indonesia ketika kasus Inul-Rhoma ini meledak, juga tatkala saya menulis ini. Dengan demikian, saya tidak tahu persis bagaimana kronologinya. Tidak tahu apakah sudah terlebih dulu ada proses dialog masyarakat dangdut dengan Inul, ataukah tiba-tiba saja masyarakat mendengar sikap Pak Haji Rhoma dan masyarakat dangdut terhadap Inul. Tiba-tiba saja Rhoma dan masyarakat dangdut adalah sebuah pihak, dan Inul adalah pihak yang lain.
Kalau yang terakhir ini yang terjadi, maka kayaknya di sini letak ketergesaan dan kekurangarifan Pak Haji. Di dalam wilayah internal kerajaan dangdut, Inul tidak memperoleh hak runding, hak islah, hak mempertahankan pendapat, dan hak mendapatkan bimbingan.
Fokus gugatan bukan Inul
Kekurangarifan yang lain adalah bahwa Inul dijadikan fokus jihadnya Pak Haji. “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dengan kecenderungan untuk tergesa-gesa”, Allah berfirman. Dan, Pak Haji sungguh tergesa-gesa.
Kalau ada makanan beracun, Pak Haji, jangan melotot hanya pada makanan itu. Kita perhatikan juga warungnya, siapa yang bikin dan kirim makanan beracun itu, dengan segala interelasi pihak-pihak di sekitarnya. Bahkan, kita perhatikan apa isi pikiran si empunya warung, apa ideologi pembikin makanan, mereka punya apa saja dan tak punya apa saja-entah modal, alat-alat produksi, skala pasar, otoritas politik, dan apa saja yang nanti akan bergoyang kalau kita banting-banting itu makanan beracun.
Bahkan, Pak Haji, kalau ada sepiring nasi beracun, apakah nasi itu harus kita buang beserta piringnya sekalian, ataukah kita cari cara untuk membersihkan piring dan nasi dari racun sehingga yang kita musuhi dan buang hanyalah racunnya?
Maka, sekali lagi, kalau ada makanan beracun, jangan sampai konsentrasi terhadap racun kalah besar dibanding perhatian terhadap makanannya. Yang harus didiskusikan oleh Raja dan masyarakat dangdut bukan Inul, melainkan fenomena jogetnya. Bukan figurnya, melainkan keseniannya. Bukan orangnya, melainkan kriteria nilainya.
Sejak umur 10 tahun Inul bergoyang
Sejak umur 10 tahun, di sekitar pertengahan tahun 1980-an, dari daerah Japanan, Jawa Timur, Inul sudah mulai show dan sudah dikenal banyak orang keistimewaannya dalam menggoyang badan dengan fokus pantatnya. Kalangan-kalangan masyarakat kelas bawah di berbagai wilayah di Jawa Timur sudah tidak “pangling” dengan goyang Inul.
Dan, semua aktivitasnya itu relatif tidak mendapat halangan apa-apa. Karena latar belakang budaya dan infrastruktur alam pikiran masyarakat kita pada dasarnya tidak pernah memiliki kesungguh-sungguhan atau konsistensi substansial untuk menyikapi gejala apa pun; kemaksiatan, pencurian, korupsi, perjudian, pelacuran, atau apa pun saja-meskipun secara teoretis itu bertentangan dengan nilai-nilai agama yang mereka anut.
Ketidaksungguhan itu maksudnya begini: ya menyembah Allah, tapi juga mengingkari-Nya. Ya mencintai-Nya, tapi juga menyakiti hati-Nya. Shalat juga, tapi beli togel juga. Puasa Ramadan juga, tapi minum arak rajin juga. Naik haji juga, tapi puncak ibadah di Mekkah itu tidak dijamin pasti menghalanginya melakukan pencurian, kecurangan, menyakiti orang lain, berselingkuh, merendahkan orang kecil, mengoordinir pencurian kayu hutan, menyantet kompetitornya dalam memperebutkan jabatan, melakukan penindasan dan kezaliman, dan berbagai macam perilaku yang membuat Allah sakit hati.
Jangan korupsi, kecuali saya kecipratan
Kita adalah masyarakat yang melarang siapa pun melakukan korupsi, kecuali kita ikut kecipratan. Kita tidak ikhlas ada KKN, kalau kita tidak dilibatkan di dalamnya. Korupsi tidak haram asalkan yang melakukan adalah keluarga kita sendiri, bapak kita, tokoh parpol kita, atau ulama panutan kita. Meniduri pembantu rumah tangga itu zalim dan dosa besar, tetapi kalau yang melakukan adalah tokoh kita sendiri, maka wajib kita tutupi, kalau perlu anak hasil perzinahan itu kita upayakan penanganan dan penampungannya.
Bagi kita, yang dimaksud tokoh adalah orang yang kita dorong, kita perjuangkan, dan kita bela untuk menjadi pemimpin nasional karena kalau berhasil, maka kita semua akan mendapatkan akses-akses dari beliau, bisa dapat proyek, bisa makelaran jabatan, atau sekalian ditempatkan menjadi pejabat ini-itu.
Calon presiden adalah orang yang kalau dia menjadi presiden kita harapkan memberi keuntungan kepada kita. Sekurang-kurangnya memberi keuntungan kepada golongan kita, ormas/orpol kita, kelompok kita: kalau terpaksanya tidak bisa maksimal, ya, yang penting bisa memberi keuntungan bagi kita pribadi dan keluarga kita.
Calon presiden itu boleh pelawak, boleh malaikat, boleh orang dungu, boleh setan, boleh siapa saja, asalkan menguntungkan kita. Yang dimaksud kita, tidak harus kita bangsa Indonesia, bahkan tak harus kita segolongan, yang penting kita sendiri ini, seorang saja pun, mendapat keuntungan. Dan yang dimaksud keuntungan, sederhana saja: uang sebanyak-banyaknya.
Dengan atmosfer nilai semacam itu, fenomena Inul tidak a-historis dan bukan sesuatu yang istimewa.
Perampok dan pengemis
Kalau ada rezim korup, kita akan memperjuangkan satu di antara tiga kemungkinan. Pertama, kita tumbangkan rezim itu agar kita bisa menggantikannya melakukan korupsi. Atau kedua, kita tekan rezim itu pada level yang kita mampu, agar supaya mereka tidak egoistik dalam melakukan pencurian uang negara dan harta rakyat. Mereka harus berbagi dengan kita, korupsi dalam koordinasi dengan kita, berkolusi dalam jaringan dengan kita.
Kemungkinan ketiga, kalau kita tidak memiliki “bargaining power” apa-apa untuk melakukan negosiasi, maka kita upayakan cara-cara untuk mengemis. Tentu saja kalau bisa jangan sampai tampak mengemis, kita bisa hiasi dan tutupi dengan retorika, jargon dan tema-tema yang indah dan penuh nasionalisme.
Penduduk Indonesia ada dua. Perampok dan pengemis. KTP-nya ganti setiap diperlukan. Kalau sedang berkuasa, merampok. Kalau tak berkuasa, mengemis, pindah parpol, pindah koalisi, pindah tema dan komitmen, atas nama dinamika demokrasi.
Inul tidak termasuk penduduk yang bisa merampok atau mengemis dalam konteks itu. Ia hanya punya kemampuan menggoyang pantat, dan ia tidak mengerti hubungan antara goyang pantat dengan peta nilai apapun-filosofi, moral, akhlak, akidah atau apapun-kecuali logika bahwa kalau ia mau bergoyang maka ia menerima honor sekian rupiah.
Dengan atmosfir nilai semacam itu, fenomena Inul bukanlah sesuatu yang aneh dan mengherankan.
Togel dan istikamah
Aa Gym bertanya kepada Inul, “Apakah Mbak Inul tidak pernah berpikir bahwa yang Mbak Inul lakukan itu bisa merusak moral generasi muda bangsa kita?”
Inul menjawab dengan penuh kejujuran: “Alhamdulillah nggak….”
Nuansa jawabannya seperti seorang pembeli nomor judi undi yang menjual sepedanya untuk memborong angka 97 (sembilan tujuh), karena ia mendapat ramalan 79 (tujuh sembilan) kemudian ia mistik otak-atik menjadi 97 (sembilan tujuh). Padahal, yang kemudian keluar adalah 79 (tujuh sembilan) persis seperti angka ramalan. Ia sudah telanjur jual sepeda…. Istrinya marah habis. Seorang sahabatnya memberi nasihat: “Makanya orang hidup itu harus istikamah, jangan plintat-plintut. Kalau sudah 79 ya 79, jangan dibolak-balik. Iman harus teguh….”
Inul tidak merasa melakukan apa pun yang berkaitan dengan kerusakan moral masyarakat. Sehingga kalau ada pengadilan moral, Inul ada di urutan sangat belakang. Urutan terdepan adalah orang yang mengerti moral namun mengkhianatinya, orang yang memahami hukum tapi melanggarnya, yang mengerti menjadi wakil rakyat artinya adalah mewakili kepentingan rakyat namun sibuk dengan kepentingan diri dan golongannya.
Sama dengan Sumanto, ia sekadar kanibal kelas teri. Ia beraninya hanya makan mayat, itu pun nenek-nenek. Itu pun sesudah si mayat ada di kuburan baru ia mencurinya. Sumanto tidak berani makan daging rakyat sebagaimana banyak pengurus negara.
Pantat Inul dan perilaku Sumanto, secara kualitatif, adalah wajah kita semua.
Membayar untuk dipantati
Mohon maaf harus saya kemukakan bahwa Pak Haji Rhoma perlu memastikan di dalam kesadarannya bahwa beliau hidup di negara yang politiknya sekular dan perekonomiannya industri, dan kebudayaan berada di bawah otoritas dua kekuasaan itu.
Siapa pun yang tidak setuju atas kenyataan itu bisa memilih satu di antara tiga kemungkinan. Pertama, melakukan pemberontakan dan mengambil alih kekuasaan. Kedua, menciptakan lingkaran “negeri” sendiri untuk menerapkan prinsip-prinsip nilainya di wilayah-wilayah nilai yang memungkinkan, tanpa harus menabrak konstitusi negara. Ketiga, melakukan sejumlah kompromi terbatas berdasarkan prinsip persuasi dan strategi sejarah berirama.
Sebagai orang yang hidup dengan pandangan agama, Pak Haji bisa mengambil wacana sujud shalat untuk menilai Inul. Tuhan menyuruh Muslim bersujud. Dalam sujud pantat kita letakkan di tataran tertinggi, sementara wajah di level terendah.
Wajah itu lambang eksistensi kita, icon kepribadian kita, dan display dari identitas kita. Kalau bikin KTP tidak dengan foto close up pantat, melainkan wajah.
Ritus sujud menjadi semacam metode cermin untuk menyadari terus-menerus bahwa kalau tidak hati-hati dalam berperilaku, manusia bisa turun martabatnya dari wajah ke pantat. Ketika bersujud yang diucapkan oleh orang shalat adalah “Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi”. Jadi jelas sujud itu memuat substansi martabat atau derajat manusia hidup.
Pak Haji cemas karena sekarang orang bukan hanya tidak takut martabat kepribadiannya merosot. Orang bahkan mendambakan pantatnya Inul, dan membayar untuk dipantati Inul.
“Market” dangdut tanpa sensualitas
Tetapi itu wacana agama. Itu urusan orang beragama. Sekularisme dan industrialisme tidak relevan terhadap martabat, derajat, akhlak dan akidah. Tidak ada agenda di dalam sekularisme dan industrialisme yang menyangkut itu semua.
Ini negara sekular, Pak Haji. Jangankan joget Inul: berzinah pun tak apa-apa. Boleh atau tidak menjadi kafir tak ada undang-undangnya. Bersikap munafik juga boleh-boleh saja. Negara ini tidak keberatan kalau kita mengkhianati Tuhan. Tuhan bukan subyek utama. Tak ada Tuhan pun negara ini tak keberatan. Dan Pak Haji tak usah menangis, tinggal mengambil satu di antara tiga kemungkinan sikap yang tertuang di atas.
Industri tidak berpikir baik atau buruk, akhlaqul karimah atau sayyiah. Industri tidak ada kaitannya dengan Tuhan, surga dan neraka. Industrialisme bekerja keras dalam skema laku atau tak laku, marketable atau tidak marketable, rating tinggi atau rendah. Bad news is good news. Kalau yang laku ingus, jual ingus. Kalau yang ramai di pasar adalah Inul, jual Inul. Dan Pak Haji adalah figur yang juga sangat marketable-industrial selama ini. Sekarang Pak Haji harus membuktikan kesaktian bahwa musik Pak Haji akan tetap marketable meskipun minus joget dan sensualitas.
Pak Haji, ada saat-saat di mana ternyata yang enak adalah orang yang tidak laku seperti saya.
Ya Allah, reformasi masih gagal, petani makin sengsara, buruh menderita, krisis nasional tak kunjung berakhir, pemilu demi pemilu tidak menambah keselamatan bangsa, berbagai problem besar belum mampu kami atasi-dan hari ini aku harus menulis tentang pantat, ya Allah….
(Emha Ainun Nadjib, Budayawan)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment