Friday, April 23, 2010

Asal Penciptaan Perempuan Pertama



A. Kesimpulan
Dari uraian pembahasan skripsi ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Menurut Wahbah Zuhaili, bahwa asal penciptaan perempuan pertama (Hawa) adalah tercipta dari tulang rusuk Adam bagian kiri Adam ketika Adam sedang tidur. Pendapat ini didasarkan pada Hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim
2. Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, bahwa asal penciptaan perempuan pertama (Hawa) adalah tercipta dari tanah sebagaimana Allah SWT telah menciptakan Adam dari tanah.
3. Adapun perbedaan dan persamaan penafsiran tentang asal penciptaan perempuan pertama (Hawa) dalam tafsir Al-Munir dan tafsir Al-Maraghi yakni:
Menurut Wahbah Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, sedangkan menurut Al-Maraghi Hawa diciptakan dari tanah, sebagaimana penciptaan Adam. Perbedaan penafsiran kedua mufassir di atas bermuara dari dua hal.
Pertama, perbedaan penafsiran lafazh-lafazh dalam Al-Qur'an, yaitu:
a. Lafazh Min Nafsin Wāhidah
Wahbah menafsirkan nafsin wāhidah dengan Adam berarti dalam memahami kalimat diatas tidak terlepas dari kaidah kebahasaan ( segi balaghah dan bahasannya)
Sedangkan Al-Maraghi menafsirkan nafsin wāhidah dengan jenis yang sama, yang mana dalam menafsirkan kalimat ini menggunakan makna konseptual, yakni mengandung arti netral, bukan bentuk laki-laki maupun perempuan. Jadi nafsin wāhidah dipahami sebagai bentuk nakirah (underfinite article) yang tidak dapat dikenal.
b. Lafazh Minhā
Wahbah tidak menjelaskan Secara jelas, namun dari penafsiran ayat-ayat di atas, bisa terlihat Secara bahwa Minha diartikan dari Adam.
Sedangkan Al-Maraghi menafsirkan "dari yang sejenis dengannya atau jenis yang sama".
c. Lafazh Zaujahā
Wahbah menafsirkan zaujahā dengan istri Adam yang bernama Hawa yang tercipta dari tulang rusuk
Sedangkan Al-Maraghi menafsirkan zaujahā istrinya (pasangannya), yang bisa suami (laki-laki) atau istri (perempuan), pemahaman ini adalah bersifat konseptual yakni kata zaujahā tidak menunjukkan bentuk mu'annas maupun mudzakkar.
Kedua, perbedaan penafsiran terhadap hadits tentang penciptaan perempuan pertama (Hawa)
Dari kedua mufassir di atas tidak menolak terhadap keshahihan hadits tersebut, hanya saja dalam memahami matan hadist tersebut berbeda dari pendekatan metode pemaknaannya.
Wahbah memahami hadits tersebut secara harfiah bahwa hadist itu menunjukkan perempuan diciptakan dari tulang rusuk dalam arti yang sebenarnya.
Sedangkan menurut Al-Maraghi, ia memahami Hadist di atas dalam arti metafora, yakni bahwa tulang rusuk yang dimaksud adalah hanya sebuah kiasan, sebagaimana sifat dari tulang rusuk adalah apabila dikerasi akan patah dan jika dibiarkan akan terus bengkok. Maka dari itu agar berbuat baik dan lemah lembut kepada perempuan.
a. Persamaan
Walupun keduanya dalam penafsiran berbeda tetapi sepakat bahwa ayat-ayat tersebut menitik beratkan terhadap terhapusnya diskriminasi terhadap perempuan, yaitu antara laki-laki dan perempuan sama-sama makhluk Allah. Wahbah mengatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam bukan berarti perempuan (Hawa) statusnya berada di bawah laki-laki. Tapi ini merupakan bukti kemukjizatan Allah SWT. Sedangkan Al-Maraghi mengatakan Hawa tercipta dari tanah sebagaimana penciptaan Adam, hal ini merupakan bukti bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia, termasuk dalam hal panciptaan. Al-Qur'an juga telah tegas bahwa perempuan memiliki derajat yang sama dengan laki-laki kecuali ketakwaannya.
4. Hikmah
Hikmah adanya asal penciptaan perempuan pertama dalam Al-Qur'an adalah sebagai bukti kemukjizatan Allah menciptakan manusia dari benda mati ataupun dari bagian tubuh manusia lain, karena itu merupakan sifat Allah yang maha kuasa dan berkehendak. Dan sebaiknya dalam menghadapi seorang wanita tidak boleh dengan kekerasan tetapi dengan cara lemah lembut, karena seorang wanita diibaratkan seperti tulang rusuk, yang apabila dikerasi akan patah, dan jika dibiarkan maka akan tetap bengkok.


B. Saran
Semoga dengan adanya skripsi ini "Asal Penciptaan Perempuan Pertama (Perbandingan Tafsir Al-Munir dan Tafsir Al-Maraghi)" dapat dijadikan acuan yang diperlukan sehingga bermanfaat bagi yang mebutuhkan, dan dapat menjadi tambahan ilmu bagi kita.
Skripsi ini belum sempurna apabila ada kesalahan dan kekurangan mohon maaf, semoga diantara para pembaca ada yang berminat untuk meneliti kembali tentang pemikiran atau penafsiran Wahbah Zuhaili dan Al-Maraghi tentang asal penciptaan perempuan pertama dalam Al-Qur'an, agar skripsi yang penulis kerjakan bisa sempurna (lengkap).

No comments:

Post a Comment

Post a Comment